Sunday, March 21, 2010

Pluralisme diatas Kain

dok: Wikipedia
Batik Hokokai


dok: Danar Hadi
Batik Belanda, Si Kerudung Merah



                                                   Tapis Lampung         

Ragam motif yang terdapat di kain Batik berasal dari berbagai pengaruh seperti religi, dongeng bahkan kebudayaan negeri asing. Pengaruh religi berasal dari jaman Hindu-Budha dan jaman Islam, pengaruh Hindu-Buddha ditunjukkan melalui adanya motif yang menggambarkan lidah api dan lambang swastika dan tulisan Arab yang diambil dari Al Quran.

Pengaruh juga datang dari negara Belanda, Cina dan Jepang. Batik yang dihasilkan tetap merupakan Batik Indonesia tetapi hanya motifnya saja yang mendapat pengaruh dan pada akhirnya justru menambah kekayaan budaya Indonesia.

• Batik Belanda

Pengaruh Belanda berkembang sejak tahun 1840 sampai 1940 dan kebanyakan dibuat di pekalongan. Cirri khas Batik Belanda ini adalah warna pastel atau cerah dan motif yang menggambarkan objek natural dan objek riil seperti bunga, burung kecil, bangau, kupu-kupu, pesawat terbang, tentara memanggul senjata, dongeng tradisional barat (kerudung merah, Hans dan Gretel), dan sebagainya. Kebanyakan Batik belanda berbentuk sarung.


Pada masa kolonial, orang-orang Belanda diatur untuk memakai kain hanya pada saat berada di rumah sedangkan untuk pakaian ke luar, mereka menggunakan baju khas barat. Salah satu tokoh Batik Belanda yang terkenal adalah Eliza van Zuylen (1863-1937), seorang pembuat Batik yang tinggal di Indonesia selama masa penjajahan. Ia membuat Batiknya di daerah Pekalongan, dan kemudian turut menyumbang identitas ragam Batik Pekalongan.

• Batik Cina

Batik Cina mulai dibuat pada sekitar awal abad 19, pada masa itu keturunan orang Cina yang disebut sebagai ‘peranakan’ (hasil perkawinan silang antara pendatang Cina dan warga pribumi) telah berbaur dengan masyarakat local. Salah satu tanda pembauran tersebut terlihat pada pakaian yang mulai memakai kain dan kebaya.

Batik yang dibuat oleh kaum peranakan ini mendapat pengaruh dari nilai-nilai filsafat negeri Cina seperti; banji yang melambangkan kebahagiaan, kelelawar yang melambangkan nasib baik, tak ketinggalan juga motif khas Cina seperti burung phoenix, kilin, dewa dewi agama Kong Hu Cu, dan beberapa motif yang diambil dari keramik seperti gambar mega. Pada perkembangannya, motif Batik Cina juga menampilkan pola yang lebih beragam yang dipengaruhi oleh Batik Keraton seperti Batik Dua Negeri dan Tiga Negeri.

Sekitar tahun 1910, motif Batik Cina juga dipengaruhi oleh gambar bunga yang merupakan pengaruh dari Batik Belanda yang pada saat itu sangat diminati oleh pasar. Selain untuk keperluan busana, Batik Cina juga digunakan untuk kain altar, taplak meja dan ritual keagamaan seperti pada upacara penguburan. Upacara penguburan dilakukan dengan mengubur beberapa barang kesukaan pemilik yang telah meninggal.

• Batik Hokokai
Merupakan Batik tulis yang dikembangkan pada masa penjajahan Jepang sekitar tahun 1942-45. Motif yang digunakan adalah kupu-kupu, bunga krisan (bunga nasional Jepang), detail yang bertumpuk. Ciri lainnya yaitu dengan menggunakan kain panjang yang dipola secara pagi/sore yaitu dua corak dalam satu kain. Hal tersebut dilakukan sebagai solusi atas kekurangan kain katun pada masa itu.
(posted by 1235ty)

Monday, March 15, 2010

Lenggak-lenggok Lurik


 Ragam corak kain lurik di pasar Beringharjo Jogjakarta

Kain tenun telah lama mewarnai perkembangan industri tekstil Indonesia. Proses perpaduan benang lungsi dan benang pakan menghasilkan kain dengan tekstur yang khas dan berbeda dari kain kebanyakan. Salah satu jenis tenun yang cukup terkenal adalah kain lurik, yang dibuat dengan hiasan atau lajur garis membujur.

Menurut buku Kain terbitan Dian Rakyat, jenis kain berbahan dasar benang katun ini pada awalnya hanya terdiri dari dua warna yaitu hitam dan putih yang dituangkan dalam corak garis-garis atau kotak-kotak. Perbedaannya terletak pada komposisi warna dan jumlah garis yang masing-masing memiliki nama tertentu, antara lain:

-       Kain pankung yang mempunyai ciri khas corak garis melintang di ujung lurik polos.
-       Kain pulowatu untuk kain dengan hiasan garis-garis berwarna hitam putih atau hijau dan putih.
-       Kain pribul terdiri dari kombinasi dua atau tiga buah garis.
-       Kain nanmaya  yang memiliki garis yang bergradasi dari satu warna yang sama.
-       Kain bendo yang sering digunakan sebagai stagen dan biasanya berwarna hitam, merah tua dan hijau tua.

Bukan hanya nama yang berbeda, tapi kain-kain tersebut memiliki makna tertentu. Misalnya warna hijau dan putih bila disatukan merepresentasikan kesakralan. Karena hijau kerap diidentikkan dengan warna kesukaan Nyai Roro Kidul, ratu pantai selatan, maka kain lurik jenis ini juga digunakan pada saat upacara di pantai Parangtritis Jogja. Garis yang membujur pada jenis kain ini melambangkan kekuatan dan semangat menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan. Adanya arti khusus di balik susunan garis dan warna tersebut juga diamini salah satu penjual lurik yang saya temui di pasar Beringharjo Jogja. Menurutnya, beberapa corak lurik konon diyakini mempunyai daya magis dan dapat menyembuhkan penyakit.

Keistimewaan lurik tidak semata pada komposisi warna dan garisnya, tapi juga penggunaannya pada upacara tradisional. Misalnya motif lasem digunakan sebagai pesing atau kain pemberian dari calon pengantin kepada nenek. Corak telupat yang terdiri dari 3 garis dan 4 garis berselang – seling, dipakai ketika menghadap Raja. Sedangkan kain lurik corak gedog madu digunakan pada ucapara tujuh bulanan dan siraman.

Penggunaan kain tenun buatan tangan ini tidak terbatas sebagai pelengkap dalam upacara tradisional. Lurik juga digunakan sebagai material kemben, surjan, ataupun beskap. Bahkan eksplorasi kain ini meluas hingga menjadi bagian dari interior bergaya minimalis yang saat ini sedang populer, contohnya sarung bantal dan taplak meja.

Sentra pengembangan kain lurik kebanyakan berada di Jogjakarta. Pengrajin menggunakan benang katun yang telah dicelup atau benang kapas lokal yang dipintal manual untuk lurik tekstur khusus. Inilah kelebihan kain lurik dari kain batik. Ia tidak bisa bisa dibuat dengan teknik cetak atau printing karena akan menghilangkan spirit tekstur kain yang menjadi ciri khasnya.

Salah satu corak kain lurik
(posted by Jeng Lili)

Sunday, March 14, 2010

Javanese Performances on an Indonesian Stage

Javanese Performances on an Indonesian Stage: Celebrating Culture, Embracing Change (Southeast Asia Publications Series) (Paperback)Barbara Hatley (Author)During the period of turmoil that gripped late twentieth-century Indonesia, theater troupes in Central Java staged stories of the past that feature a familiar cast of rulers, nobles, clown servants, and ordinary people. However, these