Friday, December 31, 2010

Javanese Culture Society

The Javanese are the largest ethnic group in Indonesia who came from Central Java, East Java, and Yogyakarta. At least 41.7% of Indonesia's population is ethnically Javanese. In addition to the three provinces, many Javanese living in Lampung, Banten, Jakarta and North Sumatra. In West Java they are found in Indramayu district and Cirebon. Java tribe also has a sub-tribe, such as Osing and

Selamat Tahun Baru 2011

4145752096_09016d9df6

“We will open the book.  Its pages are blank.  We are going to put words on them ourselves.  The book is called Opportunity and its first chapter is New Year’s Day”.

- Edith Lovejoy Pierce -

Thursday, December 30, 2010

Info Permintaan Katalog Batik Papua

 

Amole….

nyoba

Jika Anda memerlukan informasi Katalog Batik Papua , baik itu Batik Printing (Material dari Katun / Satin ) maupun Batik Tulis Papua, Silahkan hubungi kami melalui;

Email: ChandraMalini81@gmail.com atau

SMS: 081-393-0048-79 atau

Facebook Page Kami: www.facebook.com/chandramalini atau Facebook Fan Page Batik Papua: www.facebook.com/Batik Papua

Best Regards,

Ibu Chandra

Tuesday, December 28, 2010

Aplikasi Kain Tradisional: Sentuhan Tradisional pada Pernak-Pernik Masa Kini

Beberapa waktu lalu sebagian masyarakat, terutama kaum muda menganggap bahwa kain tradisional itu kuno. Hanya cocok dipakai oleh orang tua, orang desa atau hanya cocok digunakan pada acara tertentu saja, selebihnya tentu saja kain tradisional selalu menjadi nomor dua dalam pemilihan busana. Tetapi sekarang tidak lagi, sejak booming batik dan juga pengukuhan Batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO, pamor batik naik tak ketinggalan pula dengan kain tradisional lainnya yang semula tak dilirik, hampir punah atau cuma disimpan di lemari juga ikut terangkat.

Busana berbasiskan kain tradisional pun sekarang bisa disejajarkan dengan busana ala barat lainnya, singkat kata orang-orang tidak sungkan lagi memakain kain tradisional. Euphoria ini juga didukung oleh perancang-perancang ternama yang mulai (atau malah dari dulu) mengaplikasikan kain tradisional pada hasil rancangan mereka. Sebut saja nama Oscar Lawalata yang menggunakan kain ikat Sumba, atau rancangan berkelas milik Ghea Panggabean. Kain tradisional tidak lagi kaku dan bernuansa formal. Ia bertransformasi menjadi sesuatu yang mengikuti perkembangan jaman. Kini tidak lagi sulit menemukan gaun, baju atau celana yang terbuat dari bahan kain tradisional.

Selain digunakan pada pakaian, kain tradisional juga banyak diaplikasikan ke barang-barang rumah tangga, baik secara langsung ataupun hanya berupa contekan motifnya saja. Barang-barang tersebut terdiri berbagai macam seperti sandal, kipas, buku, tas, alat tulis bahkan mobil pun ada yang bermotif kain tradisional. Jenis-jenis kain yang banyak digunakan adalah kain Batik, kain yang satu ini memang merupakan kain yang dari dulu sampai sekarang sering digunakan baik pada busana. Berikutnya yang paling banyak digunakan adalah songket. Songket dengan benang emasnya yang mengilat memberi kesan glamor dan mahal bagi penggunanya. Selain itu, masih banyak lagi jenis kain tradisional yang digunakan seperti kain lurik, songket, tenun ikat Sumba, dan sabagainya.

Efek positif tidak hanya terasa pada bangkitnya nasionalisme dan terjaganya warisan budaya, tetapi juga pada geliat ekonomi. Semua orang tahu bahwa pada masa-masa sulit, banyak pabrik-pabrik penghasil Batik berhenti beroperasi. Sekarang keadaan berbalik, permintaan akan kain Batik kembali naik. Akhir kata, jangan sampai euforia kain tradisional hanya menjadi tren sementara. Biarlah mereka selalu ada diantara kita.

Saturday, December 25, 2010

Festival Gudeg

Manggar Gudeg Festival held at the Hamlet Mangir, Sendangdari Village, Sub-Display, Bantul District, Yogyakarta Special Region as an effort to remind the history of the village.Gudeg Manggar currently has worldwide had been also made by the villagers Mangir, so that with this festival as an effort to bring back the history of the hamlet Mangir.In between Gudeg Manggar Festival as well as the

Ayo ke Jogja ( Come to Jogja )

Tens of thousands of people to meet along Jalan Malioboro Yogyakarta Tugu until Sunday morning, to enliven the feast Jogja Yogyakarta City Government held together all elements of society to voice their invitation to come to Yogyakarta (Come to Jogja).Thousands of people began to meet and also along Jalan Malioboro Mangkubumi since at 06.00 pm, and continue to grow until the main event was held

Wednesday, December 22, 2010

Art Parade Post-Borobudur Promote Tourism Merapi eruption

The parade is packed dozens of art artist communities to promote tourism revival Borobudur temple in Magelang regency, Central Java, after the eruption of Mount Merapi. The parade this art as Borobudur temple tourism campaign post-eruption of Merapi.The parade that starts from the Market Street Pramudya Wardani Borobudur pass in front of the complex of Borobudur Tourism Park (TWCB),

Saturday, December 11, 2010

Seni Tradisional Jawa ( Ebeg )


"Ebeg" merupakan bentuk kesenian tari daerah Banyumas yang menggunakan boneka kuda yang terbuat dari anyaman bambu. Tarian Ebeg di daerah Banyumas menggambarkan prajurit perang yang sedang menunggang kuda. Gerak tari yang menggambarkan kegagahan diperagakan oleh pemain Ebeg. Di dalam suatu sajian Ebeg akan melalui satu adegan yang unik yang biasanya di tempatkan di tengah pertunjukan. Atraksi tersebut sebagaimana di kenal dalam bahasa Banyumasan dengan istilah Mendhem (intrans). Pemain akan kesurupan dan mulai melakukan atraksi-atraksi unik. Bentuk atraksi tersebut seperti halnya: makan Belinatau pecahan kac'a, makan dedaunan yang belum matang, makan daging ayam yang masih hidup, berlagak seperti monyet, ular, dan lain-lain.

Ebeg termasuk kesenian yang tergolong cukup diperhitungkan dalam hal umur. Diperkirakan kesenian jenis ini sudah ada sejak zaman purba tepatnya ketika manusia mulai menganut aliran kepercayaan animisme dan dinamisme. Salah satu bukti yang menguatkan Ebeg dalam jajaran kesenian tua adalah adanya bentuk-bentuk intrans atu wuru. Bentuk-bentuk seperti ini merupakan ciri dari kesenian yang terlahir pada zaman animisme dan dinamisme.

Pertunjukan Ebeg biasanya diiringi dengan alat musik yang disebut Bendhe. Alat musik ini memiliki ciri fisik seperti gong akan tetapi berukuran lebih kecil terbuat dari logam. Akibat perkembangan budaya dianyumas dan orentasi suatu senipertunjukan juga yang dalam tahap awal merupakan sarana ritual telah bergesear pada bisnis seni pertunjukan, pembenahan dalam ebeg-pun segera dilakukan. penataan padaebeg yang dapat meliputi bentuk iringan, penghalusan gerak tari, kostum ataupun propertinya banyak dilakukan oleh seniman Banyumas.


English :

"Ebeg" is an art form of dance that uses the area Banyumas horse doll made of woven bamboo. Dance Ebeg in Banyumas describe war soldier who was riding a horse. Dance movement that describes the bravery exhibited by the players Ebeg. In a dish Ebeg going through a unique scene that usually placed in the middle of the show. Attractions such as in the know in terms of Banyumasan language Mendhem (intrans). Players will be possessed and began to perform unique attractions. Forms of attractions such as: eating Belinatau kac'a fractions, eat immature leaves, eating chicken meat that is still alive, act like monkeys, snakes, and others.

Ebeg including the art of the fairly taken into account in terms of age. It is estimated that this type of art has existed since ancient times, exactly when humans began to embrace the flow of animistic belief and dynamism. One of the corroborating evidence Ebeg in the ranks of older art is the existence of other forms atu wuru intrans. The forms of this kind is characteristic of art that was born during the time of animism and dynamism.

Performing Ebeg usually accompanied by a musical instrument called Bendhe. This instrument has the physical characteristics such as the gong but the smaller size made of metal. Due to cultural development and orientation of a senipertunjukan dianyumas also that in the early stages is a means of ritual has bergesear in the performing arts business, improvement in ebeg-was soon done. padaebeg arrangement which can include forms of accompaniment, grinding dance moves, costumes or property done by many artists Banyumas.