Friday, August 27, 2010

Danau Tiga Warna Kalimutu (Lake three colors kalimutu)

Perjalanan sekitar tiga jam dari Kota Maumere, Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), ditempuh dengan sebuah mobil sewaan melintasi jalan berkelok-kelok, jurang dan tebing, serta kondisi jalan yang tidak mulus. Terasa melelahkan dan penuh tantangan, apalagi perjalanan dilakukan pada dini hari. Namun semuanya sirna setelah memasuki Kampung Moni, kampung terdekat menuju Danau Kelimutu. Ibu-ibu menawarkan kain tenun Lio yang dijual di kaki Gunung Kelimutu yang menjadi pelataran parkir kendaraan pengunjung danau tersebut. Kain tenun Lio merupakan salah satu potensi lokal yang dijual masyarakat setempat bagi wisatawan. Warna-warna Danau Kelimutu terus berubah. Perubahan itu bisa saja disebabkan oleh kandungan mineral, pengaruh biota jenis lumut dan batu-batuan di dalam kawah tersebut. Bagi masyarakat setempat perubahan warna itu mempunyai makna tersendiri.

Kampung Moni terletak di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende yang berjarak 13 kilometer dari Danau Kelimutu. Dari Moni hanya dibutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk mencapai bibir Danau Kelimutu. Tepat pukul 08.15 Wita, setelah melintasi jalan setapak sekitar satu kilometer, kami tiba di bibir Danau Kelimutu.

Danau tiga warna di puncak kawah Gunung Kelimutu yang menjadi salah satu dari keajaiban dunia ini, benar-benar mempesona dengan keindahan dan misteri yang tersimpan di puncak gunung setinggi 1.690 meter di atas permukaan laut itu.

Kelimutu merupakan gabungan dari kata keli yang berarti gunung dan mutu yang berarti mendidih. Kelimutu adalah satu dari sekian daerah tujuan wisata yang sangat terkenal di Pulau Flores, selain komodo, kampung tradisional Bena, dan Taman Laut Riung yang indah. Danau vulkanik dianggap ajaib dan misterius karena warna ketiga danau tersebut berubah-ubah, seiring dengan perjalanan waktu. Sebelumnya warna danau ini adalah merah, putih, dan biru.

Pada pertengahan 2006 lalu terjadi beberapa kali perubahan terutama untuk dua danau yang letaknya bersebelahan yakni Danau Arwah Muda-mudi (tiwu nua muri ko'o fai) dan Danau Arwah Tukang Tenung (tiwu ata polo). Danau Arwah Muda-mudi yang sebelumnya berwarna hijau, pada Juni tahun lalu sempat berubah menjadi biru. Sementara Danau Tukang Tenung atau Orang Jahat yang sebelumnya berwarna cokelat tua berubah warna agak kemerah-merahan.

Satu danau yang terpisah, Danau Arwah Orangtua (tiwu ata mbupu) tetap berwarna hijau tua/lumut. Namun, pada Desember lalu ketika Pembaruan berkunjung ke danau tersebut Danau Arwah Muda-mudi kembali berwarna hijau, Danau Orang Jahat menjadi biru tua, dan Danau Orangtua menjadi cokelat kehitaman. Warna air Danau Kelimutu adalah misteri alam.

Pagi hari adalah waktu yang terbaik untuk menyaksikan Danau Kelimutu. Menjelang tengah hari, apalagi sore hari, biasanya danau diselimuti kabut yang menghalangi pandangan. Itu sebabnya para wisatawan biasanya bermalam di Kampung Moni dan baru berangkat ke Gunung Kelimutu dini hari. Kelimutu terletak sekitar 66 kilometer dari Kota Ende dan 83 kilometer dari Kota Maumere.

Dari Maumere dapat menggunakan kendaraan sewaan sekitar Rp 600.000 untuk perjalanan Maumere-Kelimutu-Maumere. Waktu perjalanan bisa ditentukan sendiri dan pengunjung dapat mencapai puncak Kelimutu. Untuk biaya yang lebih murah dari Maumere dapat menggunakan bus umum dengan biaya Rp 25.000, namun hanya sampai di Kampung Moni, tetapi sulit mendapatkan bus yang tiba pagi hari di kampung itu sehingga harus menginap di tempat itu. Perlu juga menyewa kendaraan pribadi atau ojek untuk mencapai puncak danau.

"Kalau dengan kendaraan sewaan pengunjung bisa mampir di beberapa desa tradisional dan perjalanan diatur sesuai kesepakatan. Biasanya sekali jalan hingga pulang, butuh delapan jam dengan harga Rp 600.000. Waktu tersebut sudah lebih dari cukup termasuk dua jam penuh menikmati Danau Kelimutu dan sekitarnya," kata Paul Yanca, sopir yang biasa menyewakan kendaraan pribadinya.

Selain dari Maumere, Kelimutu juga dapat dicapai dari Ende menggunakan bus antarkota ataupun kendaraan sewaan, dengan harga dan waktu perjalanan yang relatif tidak jauh berbeda.

Sebuah cottage dari kayu adalah salah satu dari alternatif penginapan di Kampung Moni sebelum atau sesudah mengunjungi Danau Kelimutu. Tarif yang relatif murah dan pemandangan alam yang menarik merupakan kenikmatan bagi wisatawan dengan dana terbatas. Kelimutu diyakini juga sebagai tempat bersemayamnya arwah-arwah manusia. Danau yang terlihat pada gambar merupakan danau arwah orang tua (tiwu ata mbupu) letaknya terpisah dari dua danau lain yang saling berimpitan.

Untuk menginap di Kampung Moni terdapat sekitar 20 homestay yang dikelola penduduk dengan tarif Rp 25.000- Rp 50.000 per malam. Cottage milik pemerintah bertarif Rp 75.000-Rp 85.000. Kawasan Kelimutu dikelilingi hutan dengan flora yang jarang ditemukan di wilayah Flores. Ada pinus, cemara, kayu merah dan edelweiss. Sedangkan fauna yang ada seperti rusa, babi hutan, ayam hutan dan elang.

Apa yang terlihat saat ini tidak jauh berbeda dengan kondisi 15 tahun lalu ketika Pembaruan mengunjungi kawasan tersebut. Hanya sedikit perbedaan, jika 15 tahun lalu kendaraan pengunjung bisa mencapai bibir danau, saat ini kendaraan hanya bisa sampai di kaki gunung dan butuh 30 menit berjalan kaki menuju bibir danau ajaib itu.

Masyarakat setempat mempercayai bahwa Gunung Kelimutu keramat dan memberikan kesuburan pada alam di sekitarnya. Dalam beberapa kesempatan biasanya ada upacara masyarakat setempat dan memberikan sesajen kepada "arwah" yang menjaga kawasan tersebut.

Luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Batas antardanau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding terjal tersebut memiliki sudut kemiringan 70 derajat dengan ketinggian antara 50 sampai 150 meter.

Gunung Kelimutu pernah meletus pada 1886 dan meninggalkan tiga kawah berbentuk danau tersebut dan ditetapkan sebagai taman nasional sejak 26 Februari 1992. Kelimutu juga merupakan tempat yang bagus bagi yang menyukai hiking dan menikmati kawasan desa pegunungan tropis.

English :

Travel approximately three hours from the city of Maumere, Sikka regency of East Nusa Tenggara Province (NTT), reached by a rented car across the road winding ravine and cliffs, as well as road conditions are not smooth. Was exhausting and challenging, let alone made the trip at dawn. But it all disappeared after entering the village of Moni, the village closest to the Lake Kelimutu. Offers mothers woven Lio sold at the foot of Mount Kelimutu which became the vehicle visitor parking lot lake. Woven Lio is one of the local potential of the local community sold to tourists. Lake Kelimutu colors keep changing. Changes could have been caused by mineral content, the influence of biota type of moss and rocks in the crater. For local communities of color changes that have special meaning.

Moni is located in the village of Kampung Koanara, District Wolowaru, Ende, a distance of 13 kilometers from Lake Kelimutu. From Moni only takes about 45 minutes to reach the lip of Lake Kelimutu. Promptly at 8:15 pm, after crossing the trail about a mile, we reached the lip of Lake Kelimutu.

Three color lake on top of the crater of Mount Kelimutu who became one of the wonders of this world, absolutely stunning with the beauty and mystery that are stored on top of a mountain as high as 1690 meters above sea level.

Kelimutu keli is a combination of word meaning mountain and quality, which means boiling. Kelimutu was one of those tourist destination is very popular on the island of Flores, in addition to the Komodo dragon, a traditional village of Bena, and Riung the beautiful Marine Park. Volcanic lake is considered magical and mysterious as the third color of the lake is changing, with the passage of time. Earlier this lake color is red, white, and blue.

In mid-2006 and occurred several times, especially for the two lakes adjacent to the Lake of Spirits Young men and women (Tiwu nua ko'o fai muri) and Lake Dead soothsayer (Tiwu ata polo). Lake Dead Young men and women who previously green, in June last year had changed to blue. While Lake Evil soothsayer or person previously dark brown change color slightly reddish.

A separate lakes, Lake Dead Parents (Tiwu Ata tourists) stay dark green / moss. However, last December when the lake is visited Update Lake of Spirits Young men and women back is green, Wicked Lake became a navy man, and Lake's parents became blackish brown. Kelimutu Lake water color is a mystery of nature.

Morning is the best time to watch the Lake Kelimutu. Shortly before noon, let alone in the afternoon, the fog that blanketed the lake usually blocking the view. That's why the tourists usually stay overnight in the village of Moni and the new left Kelimutu early morning. Kelimutu located about 66 kilometers from the town of Ende and 83 kilometers from the town of Maumere.

From Maumere can use a leased vehicle approximately USD 600 000 for travel-Kelimutu-Maumere Maumere. Time travel can be determined alone and visitors can reach the top Kelimutu. For a cheaper cost of Maumere can use the public bus at a cost of USD 25 000, but only reached the village of Moni, but difficult to find a bus that arrived early morning in the village and should stay in place. There should also hire a private car or motorcycle taxi to reach the top of the lake.

"If the leased vehicles, visitors can stop at several traditional villages and a trip arranged according to the agreement. Usually a one-way till home, it took eight hours with a price of USD 600 000. This time is already more than enough to enjoy including two full hours Kelimutu Lake and surrounding areas," said Paul Yanca, regular driver who rents his personal vehicle.

Apart from Maumere, Kelimutu can also be achieved from Ende using intercity bus or rental vehicle, with prices and travel time is relatively not much different.

A wooden cottage is one of the alternative accommodation in the village of Moni before or after visiting the Lake Kelimutu. Rates are relatively cheap and attractive landscapes are delight for tourists with limited funds. Kelimutu bersemayamnya believed to also as a place of human souls. The lake is visible on the photograph is the ghost of the old lake (Tiwu Ata tourists) is located separately from two other lakes are coincident with each other.

To stay in the village of Moni, there are around 20 residents managed homestay with a tariff of Rp 25,000-Rp 50,000 per night. Government-owned cottage-cost Rp 75,000-Rp 85,000. Kelimutu area surrounded by forest with rare flora in the region of Flores. There are pine, fir, redwood and edelweiss. While the existing fauna such as deer, wild boar, pheasant and eagle.

What looks not much different today with the condition 15 years ago when updates visit the area. There is little difference, if 15 years ago vehicles, visitors can reach the lip of the lake, the current vehicles can only be arrived at the foot of the mountain and it took 30 minutes walk to the lip of the lake was magical.

Local people believe that the sacred Kelimutu and give fertility to the surrounding nature. On several occasions there is usually a ceremony of the local community and give offerings to the "spirits" who guarded the area.

The third area of the lake was approximately 1.051 million square meters with a volume of 1292 million cubic meters of water. Antardanau boundary is a narrow stone walls that easily slides. It has a steep wall slope angle 70 degrees with an altitude between 50 to 150 meters.

Kelimutu had erupted in 1886 and left three and crater-shaped lake is designated as a national park since February 26, 1992. Kelimutu also a great place for those who love hiking and enjoying the tropical mountain village region.


Pulau Komodo (Komodo Island)

Bagi Anda yang gemar bepergian, Anda pasti tak ingin melewatkan objek wisata yang mengesankan di seluruh penjuru nusantara. Berpetualang ke pulau-pulau yang eksotis, menyelami birunya laut, dan bermandikan cahaya mentari akan membuat liburan Anda tak terlupakan. Bayangkan, Anda juga berkesempatan untuk melihat jejak-jejak kehidupan masa lalu yang terpelihara, sekaligus berperan serta menjaga kelestariannya. Anda dan keluarga tak hanya betah menikmati wisata alamnya, tetapi juga bangga menjadi bagian dari ragam keindahan Indonesia. Dan di sini, di Taman Nasional Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, Anda akan mendapatkan semuanya.

Pulau Komodo terletak di ujung paling barat Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tepatnya di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Sejak tahun 1980, kawasan seluas 1.817 km2 ini dijadikan Taman Nasional oleh Pemerintah Indonesia, yang kemudian diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada 1986. Bersama dua pulau besar lainnya, yakni Pulau Rinca dan Padar, Pulau Komodo dan beberapa pulau kecil di sekitarnya terus dipelihara sebagai habitat asli reptil yang dijuluki “Komodo Dragon” ini.

Menyandang nama latin Varanus Komodoensis dan nama lokal “Ora”, kadal raksasa ini menurut cerita dipublikasikan pertama kali pada tahun 1912 di harian nasional Hindia Belanda. Peter A. Ouwens, direktur Museum Zoologi di Bogor adalah orang yang telah mengenalkan komodo kepada dunia lewat papernya itu. Semenjak itu, ekspedisi dan penelitian terhadap spesies langka ini terus dilakukan, bahkan dikabarkan sempat menginspirasi Film KingKong di tahun 1933. Menyadari perlunya perlindungan terhadap Komodo di tengah aktivitas manusia di habitat aslinya itu, pada tahun 1915 Pemerintah Belanda mengeluarkan larangan perburuan dan pembunuhan komodo.

komodo1 Berkat usaha pemerintah dan masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian Taman Nasional, wisatawan yang datang kini dapat berkunjung dan melihat dari dekat kehidupan reptil purba ini. Dengan panjang tubuh 2-3 meter, komodo dapat memiliki berat hingga 70-100 kilogram. Hewan yang menyukai tempat panas dan kering ini hidup di habitat sabana atau hutan tropis pada ketinggian rendah. Jika malam tiba, komodo bersarang di lubang dengan dalam 1-3 meter sambil menjaga panas tubuhnya di malam hari. Sebagai karnivora yang berada di puncak rantai makanan, mangsa Komodo antara lain kambing, rusa, babi hutan, dan burung. Pada kondisi tertentu, Komodo dapat berperilaku kanibal dengan memangsa Komodo lainnya. Dengan mengandalkan indera penciuman pada lidahnya, komodo dapat mencium bangkai mangsanya hingga sejauh 9 kilometer. Gigitannya yang mengandung bisa dan bakteri yang mematikan, ditambah cakar depannya yang tajam merupakan senjata alaminya. Selain itu, komodo ternyata mampu berlari 20 kilometer per jam dalam jarak yang pendek, memanjat pohon, berenang, bahkan menyelam.

Layaknya reptil lain, komodo berkembang biak dengan bertelur. Walaupun demikian, penelitian membuktikan terdapat cara lain komodo melakukan regenerasi, yakni dengan cara partenogenesis. Cara ini memungkinkan komodo betina untuk menghasilkan telur tanpa dibuahi oleh jantan. Partenogenesis diduga telah menyelamatkan komodo dari kepunahan sejak ribuan tahun silam. Akan tetapi, kerusakan habitat, aktivitas vulkanis, gempa bumi, kebakaran, sampai perburuan gelap terindikasi telah mengakibatkan penurunan jumlah populasi komodo sampai taraf rentan terhadap kepunahan. Diperkirakan terdapat 4-5 ribu ekor komodo dengan keberadaan betina yang produktif hanya berjumlah ratusan. Kondisi demikian merupakan tantangan bagi usaha konservasi Taman Nasional Pulau Komodo.

Menikmati wisata Taman Nasional Pulau Komodo dengan mengamati kehidupan komodo dari dekat mungkin belum cukup bagi Anda. Bagi Anda yang hobi dengan olahraga air, Anda dapat mencoba melakukan penyelaman di perairan utara maupun selatan kepulauan ini. Perairan utara merupakan perairan hangat hasil pertemuan arus dari Laut Banda dan Flores. Sebaliknya, perairan selatan menawarkan perairan dingin dari arus Samudera Indonesia. Kombinasi kedua karakter perairan yang berbeda ini menghasilkan ekosistem bawah laut yang kaya. Berbagai macam jenis terumbu karang hidup subur dan menjadi tempat hidup sekian banyak spesies ikan sekaligus penyedia sistem penunjang kehidupan air laut. Banyak penyelam telah menyaksikan kehidupan bawah laut perairan pulau Komodo yang memesona, yang menyimpan berjuta potensi keanekaragaman hayati.

Sebagai salah satu objek wisata andalan Indonesia, Pulau Komodo menyediakan akomodasi mulai dari pondokan yang didirikan masyarakat setempat sampai resort bertaraf internasional. Bagi wisatawan domestik, Anda dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp. 75.000, sedangkan wisatawan asing sebesar US$ 15. Untuk mencapai Pulau Komodo, Anda dapat melalui rute pesawat dari Kupang (ibukota Nusa Tenggara Timur-NTT) ke kota Ende di Pulau Flores. Berikutnya perjalanan dilanjutkan dengan minibus ke Labuhanbajo yang memakan waktu 10 jam. Dari Labuhanbajo, speedboat akan membawa Anda ke Pulau Komodo setelah menempuh penyeberangan selama 2 jam. Beberapa rute lainnya dapat Anda tempuh dengan penerbangan dari Bali sesuai maskapai penerbangan yang melayani tujuan ke NTT. Berbagai paket wisata yang ditawarkan agen wisata rasanya cukup menarik untuk dicoba bagi Anda yang baru pertama kali mendatangi Pulau Komodo ini.

Eco-wisata yang dicanangkan pemerintah terhadap Taman Nasional Pulau Komodo ini diharapkan mampu mendatangkan lebih banyak lagi wisatawan domestik / manca negara. Tidak hanya orang tua, bahkan anak-anak sekalipun tidak perlu takut untuk datang dan berkunjung ke sana. Dengan peraturan dan keamanan berwisata yang terjaga, manusia dan Komodo dapat hidup berdampingan dengan damai. Dan layaknya anak-anak, kecintaan mereka terhadap Komodo merupakan benih-benih yang dapat menumbuhkan kecintaan mereka pada kekayaan negeri dan sejarahnya. Nampaknya pesan inilah yang dulu di tahun 90-an pernah dibawakan dengan apik oleh Kak Seto lewat boneka Si Komo-nya. Lewat karakter Si Komo, Kak Seto membawa pesan pelestarian komodo ke hati dan pikiran anak-anak Indonesia, agar mereka bangga dengan kekayaan negerinya.

Komodo_7WondersJika demikian, sangat layak kiranya Taman Nasional Pulau Komodo diangkat menjadi salah satu dari 7 Keajaiban Alam (7 Wonders Of Nature), bersanding dengan beragam keajaiban dunia lainnya yang mengagumkan. Jejak-jejak kehidupan dunia purba telah menyajikan dirinya kepada manusia hari ini untuk becermin melihat sejarah dunia masa lalu. Kehidupan yang telah melewati ratusan, bahkan ribuan tahun. Lewat Taman Nasional Pulau Komodo ini, dunia hari ini memiliki warisan yang tak ternilai harganya untuk dilestarikan. Mari dukung Taman Nasional Pulau Komodo menjadi satu dari 7 Keajaiban Alam. Dengan demikian, Anda telah berpartisipasi dalam usaha memperkenalkan Taman Nasional Pulau Komodo kepada dunia, sehingga upaya pelestarian ini tidak hanya menjadi perhatian bangsa Indonesia, tapi seluruh masyarakat dunia. Vote Taman Nasional Pulau Komodo for 7 Wonders of Nature.

Jadi, sudahkah Anda memutuskan tujuan wisata keluarga di liburan kali ini? Tentu, Taman Nasional Pulau Komodo jawabannya. Hanya satu-satunya di dunia. Hanya di Indonesia.


English :

For those of you who love to travel, you definitely do not want to miss the impressive tourist attraction all over the archipelago. Adventure to the exotic islands, dive into the blue sea, and bathed in sunshine will make your vacation unforgettable. Imagine, you also have the opportunity to see traces of past life are preserved, as well as contribute and maintain its sustainability. You and your family is not only home to enjoy its natural attractions, but also proud to be part of the range of the beauty of Indonesia. And here, in Komodo National Park, East Nusa Tenggara, you will get everything.

Komodo Island is located at the westernmost tip of East Nusa Tenggara Province, which borders with the West Nusa Tenggara Province. Exactly at Komodo district, West Manggarai regency, East Nusa Tenggara, Indonesia. Since 1980, the area was used as an area of 1817 km2 National Park by the Government of Indonesia, which was then recognized as a UNESCO World Heritage Site in 1986. Together with two other large islands, namely Pulau Rinca and Padar, Komodo island and several small islands in the surrounding areas continue to be maintained as habitat for native reptile, dubbed the "Komodo Dragon" it.

Varanus komodoensis bears the Latin name and local name "Ora", this giant lizard, according to a story first published in 1912 in a national daily the Dutch East Indies. Peter A. Ouwens, director of the Zoological Museum in Bogor is one who has been introduced to the world of dragons through the papers. Since then, expeditions and research into this rare species continue to be done, even reportedly inspired the film had KingKong in 1933. Recognizing the need for protection of the dragons in the center of human activity in their natural habitat, in the year 1915 the Dutch government issued a ban on hunting and killing dragons.

komodo1 Thanks to efforts of government and local communities in preserving the National Park, tourists can now visit and came close look at the lives of these ancient reptiles. With a body length of 2-3 meters, Komodo dragons can weigh up to 70-100 pounds. Animals that enjoy this hot and dry places to live in the savanna or rainforest habitat at lower elevations. When night falls, dragons nest in the holes with in 1-3 feet while keeping their body heat at night. As a carnivore at the top of the food chain, among other prey Komodo goats, deer, wild boar, and birds. In certain circumstances, can behave cannibals with Komodo dragons prey on another. With the sense of smell relies on the tongue, the Komodo dragon can smell carrion prey as far as nine miles. And its bite could contain the deadly bacteria, plus a sharp front claws are natural weapons. In addition, the Komodo dragon was able to run 20 kilometers per hour in short distances, climbing trees, swimming and even diving.

Like other reptiles, the Komodo dragon reproduce by laying eggs. However, research has shown there are other ways to regenerate dragons, namely by way of parthenogenesis. This allows the female dragons to produce fertilized eggs without the male. Parthenogenesis is alleged to have saved dragons from extinction since thousands of years ago. However, destruction of habitat, volcanic activity, earthquakes, fires, until the indicated poaching has resulted in population decline dragons extent vulnerable to extinction. An estimated 4-5 thousand dragons tail in the presence of productive females only number in the hundreds. Such conditions is a challenge for conservation efforts Komodo Island National Park.

Enjoy a tour of Komodo Island National Park with the dragons of observing life near impossible not enough for you. For those of you who like the water sports, you can try to dive in the waters north and south islands. Warm waters of northern waters is the result of the current meeting of the Banda Sea and Flores. Conversely, the cold waters south of the current offers Ocean waters of Indonesia. The second combination of these different characters waters produce a rich marine ecosystems. Various types of coral reefs and a place to live fruitful lives many fish species as well as provider of marine aquatic life support systems. Many divers have witnessed life under the sea waters of the charming island of Komodo, which stores millions of potential biodiversity.

As one of the leading tourist attraction Indonesia, Komodo Island hostels provide accommodation ranging from established local community to international standard resorts. For domestic tourists, your entrance fee of Rp. 75 000, while foreign tourists amounted to U.S. $ 15. To reach the island of Komodo, you can route a plane from Kupang (capital of East Nusa Tenggara, East Nusa Tenggara) to the town of Ende on Flores Island. Next trip followed by a minibus to Labuhanbajo which takes 10 hours. From Labuhanbajo, speedboat will take you to the Komodo Island after a ferry for two hours. Several other routes you can travel with a flight from Bali, according to the airline that serves the purpose to NTT. Various tour packages offered by tour agents seemed interesting enough to be tried for the first time you visit this island of Komodo.

Eco-tourism, announced the government on the island of Komodo National Park is expected to bring more domestic tourists / foreign countries. Not only parents, even though children should not be afraid to come and visit there. With safety regulations and tour the awake, humans and dragons co-exist in peace. And like the children, their love of dragons is the seeds that can grow their love of the wealth of the country and its history. It seems that this is the first message in the 90s never sung beautifully by Kak Seto Si KOMO through her dolls. Through the character of Si KOMO, Kak Seto dragons bring conservation messages to the hearts and minds of Indonesian children, so they are proud of the wealth of his country.

Komodo_7WondersJika Therefore, it is worthy of Komodo Island National Park would be appointed to be one of the seven Natural Wonders (7 Wonders Of Nature), side by side with a variety of other amazing wonders of the world. Traces the life of the ancient world have presented themselves to mankind today to look in the mirror to see the past history of the world. Life that has passed hundreds, even thousands of years. Through this Komodo Island National Park, the world today has a priceless heritage to be preserved. Let's support of Komodo Island National Park into one of the 7 Wonders of Nature. Thus, you have participated in the effort to introduce Komodo Island National Park to the world, so that conservation efforts are not only a concern of Indonesia, but the entire world community. Komodo Island National Park Vote for 7 Wonders of Nature.

So, have you decided on a family vacation destination this time? Of course, the answer Komodo Island National Park. Only the one in the world. Only in Indonesia.

Desa Pucak, sulawesi selatan (pucak village south sulawesi)

Sebagian besar dari pembaca mungkin belum mengetahui bahwa pada sebuah desa yang berada di Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros tepatnya bernama Desa Pucak terdapat sebuah objek wisata yang sangat menarik dan unik. Namun satu kesulitan yang dialami untuk mengunjungi objek wisata ini yaitu kondisi jalan raya yang kurang baik sampai entri ini saya terbitkan (September 2009).
Meskipun demikian hampir semua jenis kendaraan darat bisa melewati jalan ini.
Objek wisata ini bernama ''PUCAK TEACHING FARM'' yang dikelola oleh seorang pensiunan Jendral yang juga pernah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan periode (1993-2003) HZB. Palaguna.
Di masa pensiun beliau lebih banyak menghabiskan waktu pada objek wisata yang dia kelola. Beliau termasuk sosok yang sangat dermawan terhadap masyarakat di Desa Pucak sehingga keberadaan beliau menjadi kebanggaan tersendiri buat warga Desa Pucak.
Objek wisata ini memiliki beberapa fasilitas yang dapat dimamfaatkan untuk berbagai Keperluan mulai dari sekedar jalan-jalan mencari hiburan, kegiatan organisasi, kegiatan keagamaan, reuni, bazar dan lain-lain.


English :

Most of the readers may not know that at a village situated in Maros District Tompobulu named Village Pucak exactly a tourist attraction there is a very interesting and unique. However, one difficulty experienced to visit this tourist attraction is the condition of the highway that is less fine until I published this entry (September 2009).
Nevertheless almost all types of land vehicles can get through this road.
This tourist attraction called''PUCAK TEACHING FARM''which is managed by a retired General who also served as Governor of South Sulawesi period (1993-2003) HZB. Palaguna.
In retirement he spent more time on tour that he objects to manage. He included the figure of a very generous towards the people in the village of Pucak therefore the existence he has been a matter of pride for residents Pucak.
This tourist attraction has several facilities that can dimamfaatkan for a variety of supplies ranging from the streets just looking for entertainment, organized activities, religious events, reunions, and other bazaars.

Sunday, August 8, 2010

Sarung, dulu dan kini


Sebagian besar masyarakat Indonesia tentu tak asing dengan kain bernama sarung. Kain yang kedua ujungnya dijahit sehingga menyerupai tabung ini dipakai oleh pria dan wanita dalam banyak kesempatan. Bahkan seolah menjadi tradisi bagi pria muslim untuk mengenakan sarung saat beribadah.

Proses penyebaran agama Islam melalui perdagangan kabarnya turut pula mendatangkan tradisi penggunaan sarung yang dikenalkan oleh pedagang Yaman. Pemakaiannya yang sederhana dan tidak menunjukkan aurat pemakainya membuat kain ini menjadi populer dalam di kalangan muslim Indonesia. Pada zaman penjajahan Belanda, para santri bahkan mengenakannya sebagai symbol perlawanan terhadap pengaruh budaya barat.

Seiring perkembangan zaman, sarung dipakai tidak hanya dipakai untuk ritual keagamaan, tetapi juga upacara adat dan bahan sandang sehari-hari. Salah satu daerah penghasil kain tenun yang menjadi bahan sarung adalah Sulawesi Selatan, tepatnya di kawasan Sengkang dan Mandar. Masyarakat suku Bugis di kedua daerah ini memiliki ketrampilan menenun kain turun temurun. Corak khas sarung buatan Sengkang selain kotak-kotak kecil dan besar, juga garis zig-zag beraneka warna. Warna yang dihasilkan umumnya cerah seperti merah muda, kuning, hijau muda, dan merah terang. Sedangkan sarung Bugis buatan Mandar biasanya berwarna lebih gelap seperti merah marun, hijau tua dan hitam. Ragam hias yang dihasilkan selain kotak-kotak, juga bunga-bunga yang tersebar di seluruh permukaan kain dengan memakai benang metalik.



Sarung Bugis