Friday, February 26, 2010

Songket Padang

Songket adalah teknik yang digunakan untuk menghias kain yang telah ditenun, prosesnya sangat rumit karena dikerjakan pada saat kain tersebut ditenun. Proses pemberian corak pada kain ini dikerjakan dengan cara menyisipkan benang lungsi di antara benang pakan yang akan membentuk kain. Benang yang digunakan untuk membentuk corak adalah benang emas atau perak sedangkan benang yang digunakan untuk kain latar biasanya adalah sutra atau katun. Teknik Songket ini sering disebut sebagai teknik tenun dengan bahan pakan tambahan (supplementary weft). Benang pakan (weft) adalah benang yang letaknya melintang dan benang lungsi adalah benang yang letaknya membujur mengikuti panjangnya kain (warp).



Daerah penghasil kain Songket yang terhalus adalah Sumatera Barat dan Selatan. Di Sumatera Barat pembuat kain Songket disebut Pandai Sikek yang banyak berada di Payakumbuh, Tana Datar, Sepuluh Koto. Dan untuk motifnya disebut Cukie, setiap cukie mempunyai motif, nama dan cerita tersendiri. Kebanyakan kisah diambil dari kebijaksanaan Melayu yang sangat kental dengan budaya Islam. Beberapa contoh motif yang terkenal adalah Cukie Kaluak Paku dan Cukie Pucuak Rabung.

Cukie Kaluak Paku berkisah tentang tanaman paku yang pada masa awal hidup, ujungnya terlipat ke dalam dan kemudian ujung tersebut akan tumbuh keluar seiring pertumbuhannya. Makna dari motif tersebut bahwa manusia hendaknya tidak melupakan kodratnya, mengenal diri sendiri dahulu baru kemudian bersosialisasi dengan lingkungannya. Dan Cukie Pucuak Rabung yang berkisah tentang tanaman bambu yang berguna bagi kehidupan manusia dari bambu muda (rebung) yang dapat dimakan sampai bambu tua yang dapat dijadikan bahan bangunan.

Alat utama yang digunakan Pandai Sikek untuk membuat Songket terbuat dari bambu dan kayu, tidak memakai peralatan dari besi dan logam. Alat tenun tersebut disebut panta yang berukuran 2x1,5 meter ini terdiri dari:

 Gulungan yaitu alat yang digunakan untuk menggulung benang dasar tenunan.

 Sisia yaitu alat yang digunakan untuk merentangkan dan memperoleh benang tenunan.

 Pancukia yaitu alat pembuat motif songket

 Turak yaitu alat untuk memasukkan benang lain ke benang dasar.

 Pamedangan yaitu tempat khusus untuk menenun songket. Pada alat ini panta ditempatkan dan didepannya diberi 2 buah tiang yang gunanya untuk menyangga kayu paso. Kayu paso adalah kayu untuk menggulung hasil tenunan.

 Palapah yaitu alat untuk merenggangkan benang latar.

 Ani yaitu peralatan tambahan untuk menggulung benang.

 Alat penggulung hasil tenunan dengan panjang 1 meter dan berdiameter 5 centimeter (kayu paso).

Proses Pembuatan Songket

Teknik pembuatan Songket ada 2 macam; pertama, menenun kain latar kemudian memasukkan kain pakan diantara kain latar yang telah direnggangkan dengan palapah, memasukkan benang pakan dengan menggunakan pancukia. Setelah itu dengan menggunakan karok yang terdapat pada turak, benang dimasukkan melalui kanan dan kiri. Benang tersebut yang akan menjadi kain latar.

Proses kedua adalah pembuatan motif. Teknik ini disebut dengan teknik pakan tambahan (supplementary weft). Proses sangat sulit karena harus dilakukan dengan teliti dan memakan waktu lama karena harus dihitung satu persatu dari pinggir kanan kain sampai pinggir kiri kain dengan perhitungan tertentu sesuai dengan motif yang ingin dibuat.

Untuk pembuatan satu kain sarung, perajin kain Songket memerlukan waktu kurang atau lebih dari satu bulan. Lamanya seorang perajin menyelesaikan suatu kain songket tergantung dari ukuran, kerumitan motif, dan kehalusan kainnya. Semakin besar ukuran kain, semakin rumit motif dan semakin halus maka semakin lama pula pembuatannya.

Motif Pucuak Rabung

Songket Pucuak Rabung

(posted by 1235ty)

Monday, February 22, 2010

Visitors Borobudur Prohibited Shorts and Mini Skirt

Since February 1, 2010, PT Taman Wisata Candi Borobudur test the new rule that requires every foreign and domestic tourists to the temple of Borobudur using batik cloth for wearing shorts or short skirts and sandals, rubber mat. Procurement rules functioned to enhance the economy of local people. With this rule, will be increased demand for batik sarongs and sandals made by artisans around

Sunday, February 21, 2010

Asosiasi Minta Impor Batik Cina Dihentikan

VIVAnews – Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) mengusulkan penghentian impor batik dari Cina. Pemerintah diharapkan dapat mengambil kebijakan serupa di beberapa negara.

Presiden Direktur GKBI Nurbasya Juned Nurbasya menilai, pemerintah kurang antisipatif menyikapi serbuan batik Cina tersebut.

"GKBI hanya bisa mengimbau pemerintah dan departemen perdagangan agar impor batik Cina dihentikan," kata Nurbasya seusai bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wapres Jakarta, Rabu, 15 Oktober 2008.

Meski demikian, lanjut dia, masuknya batik Cina tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap industri sejenis di dalam negeri. “Jumlahnya tidak lebih dari lima persen,” tegas dia.

Menurut dia, banyak negara yang menolak ekspor batik dari Indonesia, termasuk Malaysia. "Seharusnya Indonesia bisa mengambil langkah serupa untuk batik Cina itu," jelas Nurbasya.

• VIVAnews
Rabu, 15 Oktober 2008, 13:01 WIB
Arinto Tri Wibowo, Shinta Eka Purpasari

Tekstil China Ancam Industri Batik

VIVAnews - Produk batik Indonesia diusulkan mempunyai pos tarif (harmonized number/HS) sendiri. Pos tarif ini yang akan digunakan untuk mengenali produk sebagai komoditas perdagangan.

Selama ini, batik belum mempunyai pos tarif sendiri dan dikategorikan ke dalam komoditas garmen. Usulan itu, menurut Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kemenperin Fauzi Aziz, telah mencuat sejak tahun 1985.

"Apalagi untuk saat ini sangat relevan, mengingat dengan FTA Asean-China, pembatik kita kuatir dan takut banjir batik dari China," kata Fauzi di sela-sela kunjungan kerja Menteri Perindustrian MS Hidayat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu, 16 Januari 2010.

Produk tekstil dari China memang menjadi ancaman batik asli Indonesia, terutama batik tulis dan batik cap. Sebab, batik China masuk bukan dalam bentuk batik tetapi dominan dalam bentuk tekstil bermotif batik.

Padahal, belum genap setahun, batik diakui secara internasional oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Untuk merealisasikannya, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai siap membantu.

"Kami akan bantu untuk membicarakannya dengan tim tarif di Badan Kebijakan Fiskal," kata Direktur Teknis Kepabeanan Ditjen Bea dan Cukai.

Kendati demikian, kata Agung, perlu diidentifikasi, batik harus dimasukkan di kelompok pos tarif mana. "Karena, jenis kain bisa juga dibuat batik," katanya.

antique.putra@vivanews.com

Sabtu, 16/01/2010 23:17

Perajin Batik Cirebon Dukung "Ekskul" Membatik

Produksi Batik Trusmi
Perajin batik tulis di sentra kerajinan Batik Trusmi, di Desa Trusmi, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Perajin batik Cirebon nyatakan dukungannya atas upaya pelestarian seni batik daerah itu dengan menerapkan pelajaran esktrakulikuler membatik kepada siswa SD di kabupaten Cirebon.

CIREBON, KOMPAS.com - Kalangan perajin batik Cirebon menyatakan dukungannya atas upaya pelestarian seni batik daerah itu dengan menerapkan pelajaran ekstrakulikuler membatik kepada siswa SD di kabupaten setempat.

"Kami sangat mendukung sekaligus bergembira, karena seni membatik masyarakat Cirebon tetap akan lestari," kata Masnedi Masina, Sekretaris Koperasi Batik Trusmi Cirebon yang juga pengusahan batik ini, Jumat (28/8). "Bahkan kami siap melayani sekolah apabila diperlukan," tambahnya.

Hanya saja, menurut dia, proses membatik diperlukan banyak bahan, terutama lilin. Satu helai kain, kata dia, biasanya menghabiskan lilin antara 2-3 kilogram. Harga lilin saat ini Rp15.000 per kilogram, yang merupakan kombinasi dari bahan yang dibeli dari pertamina, "gundorukem" atau getah pohon pinus, serta lilin bekas yang didaur ulang.

"Bahan-bahan tersebut perlu disediakan oleh sekolah yang mendapat pelatihan," katanya.

Terkait upaya tersebut, lanjut Mesnedi, Bupati Cirebon Dedi Supardi baru-baru ini menerima penghargaan dari Mendiknas Bambang Soedibyo. Penghargaan diberikan atas kebijakan gubernur menerapkan seni batik sebagai salah satu pelajaran ekstrakulikuler di SD.

Jumat, 28 Agustus 2009 http://regional.kompas.com

Batik Trusmi Pesona yang Terpendam dari Cirebon

batik-trusmi-cirebon

Bagi kolektor batik, nama desa Trusmi Wetan dan Trusmi Kulon, Kecamatan Weru, Cirebon tak dapat dipinggirkan. Desa yang terletak sekitar lima kilometer dari pusat kota ini sejak puluhan tahun lalu telah menjadi sentra bisnis batik. Sayang, mereka harus kedodoran mencari para pembatik lokal.

Kisah membatik desa Trusmi berawal dari peranan Ki Gede Trusmi. Salah seorang pengikut setia Sunan Gunung Jati ini mengajarkan seni membatik sembari menyebarkan Islam.

Kelihaian membatik itu ternyata memberi berkah di kemudian hari. Batik Trusmi berhasil menjadi ikon batik dalam koleksi kain nasional. Seolah kain batik dari desa ini tak masuk dalam keluarga batik Cirebon. Batik Cirebon sendiri termasuk golongan Batik Pesisir.

Usaha yang bermula dari skala rumahan lama kelamaan menjadi industri kerajinan yang berorientasi bisnis. Produk batik Trusmi bukan sekadar memenuhi kebutuhan lokal, tetapi sebagian perajin mengekspor ke Jepang, Amerika, dan Belanda.

Masa keemasan kerajinan batik di daerah ini terjadi pada kurun waktu 1950-1968. Tak heran bila sebuah koperasi di tingkat lokal, Koperasi Batik Budi Tresna yang menaungi perajin batik, sanggup membangun gedung koperasi yang sangat megah. Tak ketinggalan, sejumlah sekolah mulai dari tingkat SD, SLTP hingga SLTA.

Pada dasarnya batik-batik yang dihasilkan oleh sentra-sentra kerajinan batik di berbagai daerah pada umumnya bagus-bagus serta memiliki corak motif batik yang beragam. Dengan demikian sifat khas dan keunikan batik-batik daerah tersebut tidak bisa dikatakan batik yang satu lebih baik dari daerah lainnya. Keunikan motif serta corak yang dihasilkan dari batik-batik di berbagai daerah merupakan kekuatan dan kekayaan yang sangat luar biasa, khususnya bagi kebudayaan batik Indonesia.

Belum ada di negara manapun yang memiliki kekayaan desain motif batik seperti yang di miliki oleh bangsa Indonesia. Yang sangat membanggakan kita semua adalah, pada tiap-tiap daerah memiliki desain serta motif-motif yang khas dengan penamaan motif yang menggunakan bahasa daerahnya masing-masing.

Misalnya saja motif batik dari Aceh ada Pintu Aceh, Cakra Doenya, Bungong Jeumpa. Dari Riau ada Itik Pulang Petang, Kuntum Bersanding, Awan Larat dan Tabir. Batik dari Jawa diantaranya Jelaprang (Pekalongan), Sida Mukti, Sida Luhur (Solo), Patran Keris, Paksinaga Liman, Sawat Penganten (Cirebon), dll.

Untuk mengetahui tentang bukti banyaknya kekayaan desain motif-motif batik Indonesia contoh yang paling sederhana bisa dilihat di wilayah Jawa Barat, di wilayah ini terdapat puluhan sentra batik diantaranya dari wilyah paling Timur ada Cirebon, wilayah bagian Utara ada Indramayu, kemudian ke arah bagian Barat dan Selatan terdapat Kabupaten Ciamis, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Kabupaten Garut.

Walaupun masih dalam satu propinsi dan kultur budaya yang sama (budaya Sunda), namun bisa kita temui adanya perbedaan motif dan ragam hias batik yang jauh berbeda antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya.

Seperti pada daerah Cirebon dengan Indramayu memiliki karakter dan desain motif yang berbeda, terlebih lagi antara daerah Cirebon dan Garut memiliki perbedaan motif, corak serta ragam hias yang sangat signifikan perbedaannya. Perbedaan itu dipengaruhi oleh kultur budaya dan tingkat keahlian dari para pengrajin batiknya.

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat batik relatif sama baik dari bentuk canting, bentuk cap maupun jenis lilinnya. Namun ketika proses produksi berjalan ada kalanya kondisi unsur air tanah dengan kualitas PH yang berbeda-beda bisa mempengaruhi hasil pewarnaan akhir. Demikian pula dengan sifat kesabaran dan keuletan pengrajin batik di tiap-tiap daerah, juga akan bisa mempengaruhi kualitas akhir batik yang dihasilkannya.

Daerah sentra produksi batik Cirebon berada di desa Trusmi Plered Cirebon yang konon letaknya di luar Kota Cirebon sejauh 4 km menuju arah barat atau menuju arah Bandung. Di desa Trusmi dan sekitarnya terdapat lebih dari 1000 tenaga kerja atau pengrajin batik. Tenaga kerja batik tersebut berasal dari beberapa daerah yang ada di sekitar desa Trusmi, seperti dari desa Gamel, Kaliwulu, Wotgali dan Kalitengah.

Secara umum batik Cirebon termasuk kedalam kelompok batik Pesisiran, namun juga sebagian batik Cirebon termasuk dalam kelompok batik keraton. Hal ini dikarenakan Cirebon memiliki dua buah keraton yaitu Keratonan Kasepuhan dan Keraton Kanoman, yang konon berdasarkan sejarah dari dua keraton ini muncul beberapa desain batik Cirebonan Klasik yang hingga sekarang masih dikerjakan oleh sebagian masyarakat desa Trusmi diantaranya seperti motif Mega Mendung, Paksinaga Liman, Patran Keris, Patran Kangkung, Singa Payung, Singa Barong, Banjar Balong, Ayam Alas, Sawat Penganten, Katewono, Gunung Giwur, Simbar Menjangan, Simbar Kendo dan lain-lain.

Beberapa hal penting yang bisa dijadikan keunggulan atau juga merupakan ciri khas yang dimiliki oleh batik Cirebon adalah sbb:

a. Desain batik Cirebonan yang bernuansa klasik tradisional pada umumnya selalu mengikut sertakan motif wadasan (batu cadas) pada bagian-bagian motif tertentu. Disamping itu terdapat pula unsur ragam hias berbentuk awan (mega) pada bagian-bagian yang disesuaikan dengan motif utamanya.
b. Batik Cirebonan klasik tradisional selalu bercirikan memiliki warna pada bagian latar (dasar kain) lebih muda dibandingkan dengan warna garis pada motif utamanya.
c. Bagian latar atau dasar kain biasanya nampak bersih dari noda hitam atau warna-warna yang tidak dikehendaki pada proses pembuatan. Noda dan warna hitam bisa diakibatkan oleh penggunaan lilin batik yang pecah, sehingga pada proses pewarnaan zat warna yang tidak dikehendaki meresap pada kain.
d. Garis-garis motif pada batik Cirebonan menggunakan garis tunggal dan tipis (kecil) kurang lebih 0,5 mm dengan warna garis yang lebih tua dibandingkan dengan warna latarnya. Hal ini dikarenakan secara proses batik Cirebon unggul dalam penutupan (blocking area) dengan menggunakan canting khusus untuk melakukan proses penutupan, yaitu dengan menggunakan canting tembok dan bleber (terbuat dari batang bambu yang pada bagian ujungnya diberi potongan benang-benang katun yang tebal serta dimasukkan pada salah satu ujung batang bambu).
e. Warna-warna dominan batik Cirebonan klasik tradisional biasanya memiliki warna kuning (sogan gosok), hitam dan warna dasar krem, atau berwarna merah tua, biru tua, hitam dengan dasar warna kain krem atau putih gading.
f. Batik Cirebonan cenderung memilih sebagian latar kainnya dibiarkan kosong tanpa diisi dengan ragam hias berbentuk tanahan atau rentesan (ragam hias berbentuk tanaman ganggeng). Bentuk ragam hias tanahan atau rentesan ini biasanya digunakan oleh batik-batik dari Pekalongan.

Masih dengan batik Cirebonan, namun mempunyai ciri yang berbeda dengan yang sebelumnya yaitu kelompok batik Cirebonan Pesisiran. Batik Cirebonan Pesisiran sangat dipengaruhi oleh karakter masyarakat pesisiran yang pada umumnya memiliki jiwa terbuka dan mudah menerima pengaruh budaya asing.

Perkembangan pada masa sekarang, pewarnaan yang dimiliki oleh batik Cirebonan lebih beraneka warna dan menggunakan unsur-unsur warna yang lebih terang dan cerah, serta memiliki bentuk ragam hias yang bebas dengan memadukan unsur binatang dan bentuk-bentuk flora yang beraneka rupa.

Pada daerah sekitar pelabuhan biasanya banyak orang asing yang singgah, berlabuh hingga terjadi perkawinan etnis yang berbeda (asimilasi), maka batik Cirebonan Pesisiran lebih cenderung menerima pengaruh budaya dari luar yang dibawa oleh pendatang.

Sehingga batik Cirebon yang satu ini lebih cenderung untuk bisa memenuhi atau mengikuti selera konsumen dari berbagai daerah (lebih kepada pemenuhan komoditas perdagangan dan komersialitas), sehingga warna-warna batik Cirebonan Pesisiran lebih atraktif dengan menggunakan banyak warna.

Produksi batik Cirebonan pada masa sekarang terdiri dari batik Tulis, batik Cap dan batik kombinasi tulis cap. Pada tahun 1990 – 2000 ada sebagian masyarakat pengrajin batik Cirebonan yang memproduksi kain bermotif batik Cirebonan dengan teknik sablon tangan (hand printing), namun belakangan ini teknik sablon tangan hampir punah, dikarenakan kalah bersaing dengan teknik sablon mesin yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang lebih besar.

Pertumbuhan batik Trusmi nampak bergerak dengan cepat mulai tahun 2000, hal ini bisa dilihat dari bermunculan showroom-showroom batik yang berada di sekitar jalan utama desa Trusmi dan Panembahan. Pemilik showroom batik Trusmi hampir seluruhnya dimiliki oleh masyarakat Trusmi asli walaupun ada satu atau dua saja yang dimiliki oleh pemilik modal dari luar Trusmi.

http://bisnisukm.com

Batik Keraton Cirebon, Sejarah yang Hampir Pudar

ADA sejarah panjang di balik batik yang bisa menguraikan tradisi. Begitu juga dengan batik Keraton Kanoman Cirebon yang hampir punah digerus waktu.

Selama ini, batik Cirebon kerap dikaitkan dengan motif megamendung yang menjadi ciri khas batik dari kota pelabuhan tersebut. Padahal, sejarah batik Cirebon jauh lebih kaya ketimbang sekadar motif megamendung semata. Sejarah itu pun dimulai sejak berabad lalu, seiring perkembangan masyarakat Cirebon. Daerah Trusmi, yang dikenal sebagai penghasil batik di Cirebon, juga ikut bertumbuh dalam perkembangan tersebut.

Dipercaya, batik Trusmi merupakan perluasan dari kebiasaan membatik di kalangan warga keraton. Pada waktu itu, kegiatan membatik hanya dilakukan di daerah keraton karena batik menjadi simbol status bagi keluarga sultan dan para bangsawan Cirebon. Namun, akibat terjadi peperangan dan perpecahan kekuasaan, perajin batik keraton pun akhirnya dipulangkan ke daerah masing-masing. Salah satu daerah asal para perajin tersebut adalah Trusmi, di mana batik Cirebon terus berkembang.

Wilayah Cirebon yang merupakan pelabuhan besar pun menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan batik. Adanya akulturasi kepercayaan, seni, dan budaya yang dibawa serta para pedagang masa lampau memberi warna baru yang kemudian melahirkan konsep batik pesisiran. Suntikan pengaruh Oriental dari saudagar asal China pun tak kalah menambah semarak batik Cirebon. Mencipta motif baru, layaknya binatang khayal, kirin maupun naga, serta penggunaan kombinasi warna yang cenderung lebih cerah.

Adapun motif batik keraton sendiri pun tidak terlepas dari pengaruh akulturasi budaya tersebut. Hal itu terlihat di beberapa koleksi batik keraton yang memiliki sentuhan Oriental, baik dalam hal pewarnaan maupun ragam hiasnya. Namun, kemajuan zaman dan industri membuat batik status simbol para bangsawan ini tersingkir. Akibatnya, pamor batik Keraton Cirebon memudar, bahkan bisa dikatakan tergilas waktu.

Sebaliknya, batik pesisiran berkembang cepat. Masyarakat pesisir menjadi agen penyebar utama, mereka banyak berhubungan dengan bangsa lain, yang kemudian semakin memperkaya motif dan warna batik pesisiran. Batik pun tidak lagi dikenakan oleh kalangan terbatas, malah menjadi komoditi perdagangan dan mata pencaharian bagi masyarakat Cirebon hingga kini.

Kondisi kontras tersebut menghadirkan kecemasan tersendiri. Bagaimanapun, batik merupakan warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan. Apalagi motif batik menyimpan banyak cerita sejarah masa lalu serta falsafah hidup yang dianut nenek moyang. Berangkat dari keprihatinan tersebut, generasi ke-12 Sunan Gunung Jati, bekerja sama dengan Perkumpulan Nurani Budaya Indonesia (PBNI), dan didukung penuh oleh Bank BRI, mendirikan Pusat Pelatihan Batik Keraton Kanoman.

"Batik Keraton Kanoman Cirebon merupakan warisan budaya yang memiliki nilai histori tinggi yang patut dilestarikan, tapi sayangnya kini mulai terlupakan masyarakatnya sendiri. Karena itu, kami bersama-sama dengan BRI dan PBNI mendirikan pusat pelatihan batik sebagai cara memperkenalkan kembali batik Keraton Kanoman Cirebon," ujar Sultan Kanoman Cirebon Kanjeng Gusti Sultan Raja Mohammad Emirudin.

Untuk itu, sang sultan menunjuk adiknya, Ratu Raja Arimbi Nurtina sebagai pengelola pusat pelatihan tersebut. Ratu Arimbi yang juga sekaligus merupakan sekretaris kesultanan, mengharapkan ke depannya pusat pelatihan itu dapat menjadi langkah awal untuk kembali membangkitkan batik Keraton Kanoman Cirebon.

"Sekarang batik khas keraton ini memang mulai terlupakan, tapi dengan adanya pusat pelatihan ini, kami mengharapkan warga Cirebon bisa mengenal lebih jauh budayanya sendiri, sekaligus menambah komoditas wisata di Cirebon," ujar Ratu Arimbi, sembari menambahkan pusat pelatihan tersebut juga menawarkan workshop bagi para turis yang tertarik.

Dipusatkan di Keraton Kanoman Cirebon, pusat pelatihan batik ini menjadi salah satu kegiatan yang menarik untuk disaksikan.
Saat ini training centre tersebut melatih 20 perajin yang terdiri atas warga sekitar. Mereka tidak hanya dilatih membatik semata, melainkan diberi pengetahuan menyeluruh mengenai proses pembatikan mulai proses awal penggambaran pola hingga pewarnaan. Tidak hanya itu, peserta pelatihan juga diberi informasi mengenai teknik-teknik pemasaran serta distribusi batik. Dengan begitu, nantinya akan didapat perajin sekaligus pengusaha batik mandiri.

"Ini memang masih program eksperimental, tapi nantinya pelatihan ini akan diharapkan bisa melahirkan bukan hanya pengrajin, juga pengusaha batik yang lebih cenderung ke bentuk usaha komersial," sebut Ratu Arimbi.
(sindo//tty)
http://lifestyle.okezone.com

AKULTURASI BATIK CIREBON

Sejarah Batik Megamendung
Sebagai suatu karya seni, megamendung identik dan bahkan menjadi ikon batik pesisiran
Cirebon. Batik ini memiliki kekhasan yang tidak dijumpai di daerah-daerah pesisir penghasil
batik lain di utara Jawa seperti Indramayu, Pekalongan, maupun Lasem.
Kekhasan megamendung atau "awan-awanan" tidak saja pada motifnya yang berupa gambar
menyerupai awan dengan warna-warna tegas seperti biru dan merah, tetapi juga pada nilai-nilai
filosofi yang terkandung pada motifnya. Hal ini sangat erat berkaitan dengan sejarah lahirnya
batik secara keseluruhan di Cirebon.
Belum jelas, kapan batik menjadi tradisi di daerah pesisir pantura. Dari beberapa penuturan,
sejarah batik di Cirebon terkait erat dengan proses asimilasi budaya serta tradisi ritual religius.
Prosesnya berlangsung sejak Sunan Gunung Djati menyebarkan Islam di Cirebon sekitar abad
ke-16.
Budayawan dan pemerhati batik, Made Casta menuturkan, sejarah batik dimulai ketika
Pelabuhan Muara Jati (Cirebon) menjadi tempat persinggahan pedagang Tiongkok, Arab,
Persia, dan India. Saat itu terjadi asimilasi dan akulturasi beragam budaya yang menghasilkan
banyak tradisi baru bagi masyarakat Cirebon.
Pernikahan Putri Ong Tien dan Sunan Gunung Djati merupakan ’pintu gerbang’ masuknya
budaya dan tradisi Tiongkok (Cina) ke keraton. Ketika itu, keraton menjadi pusat kosmik
sehingga ide atau gagasan, pernik-pernik tradisi dan budaya Cina yang masuk bersama Putri
Ong Tien menjadi pusat perhatian para seniman Cirebon. "Pernik-pernik Cina yang dibawa
Putri Ong Tien sebagai persembahan kepada Sunan Gunung Djati, menjadi inspirasi seniman
termasuk pebatik," tutur perupa Made Casta. Keramik Cina, porselen, atau kain sutra dari
zaman Dinasti Ming dan Ching yang memiliki banyak motif, menginspirasi seniman Cirebon.
Gambar simbol kebudayaan Cina, seperti burung hong (phoenix), liong (naga), kupu-kupu, kilin,
banji (swastika atau simbol kehidupan abadi) menjadi akrab dengan masyarakat Cirebon. Para
pebatik keraton menuangkannya dalam karya batik. Salah satunya motif megamendung.
"Tentu dengan sentuhan khas Cirebon, sehingga tidak sama persis. Pada megamendung,
garis-garis awan motif Cina berupa bulatan atau lingkaran, sedangkan megamandung Cirebon
cenderung lonjong, lancip, dan berbentuk segitiga. Ini yang membedakan motif awan Cina dan
Cirebon," tutur Made Casta.
H. Komarudin Kudiya, S.I.P., M.Ds., Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB)
mengemukakan, persentuhan budaya Cina dengan seniman batik Cirebon melahirkan motif
batik baru khas Cirebon.
Motif Cina hanya sebagai inspirasi. Seniman batik cirebon kemudian mengolahnya dengan cita
rasa masyarakat setempat yang beragama Islam. Dari situ, lahirlah motif batik dengan ragam
hias dan keunikan khas, seperti Paksi Naga Liman, Wadasan, Banji, Patran Keris, Singa
Payung, Singa Barong, Banjar Balong, Ayam Alas, dan yang paling dikenal ialah
megamendung.
"Meski megamendung terpengaruhi Cina, dalam penuangannya secara fundamental berbeda.
Megamendung Cirebon sarat makna religius dan filosofi. Garis-garis gambarnya simbol
perjalanan hidup manusia dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa, berumah tangga sampai mati.
Antara lahir dan mati tersambung garis penghubung yang kesemuanya menyimbolkan
kebesaran Illahi," tutur pemilik showroom "Batik Komar" di Jln. Sumbawa, Kota Bandung itu.
**
SEJARAH batik di Cirebon juga terkait perkembangan gerakan tarekat yang konon berpusat di
Banjarmasin, Kalimantan. Oleh karena itu, kendati terpengaruh motif Cina, penuangan
gambarnya berbeda, dan nuansa Islam mewarnai. Disitulah terletak kekhasannya.
Pengaruh tarekat terlihat pada Paksi Naga Lima. Motif itu merupakan simbol berisi pesan
keagamaan yang diyakini tarekat itu. Paksi menggambarkan rajawali, naga adalah ular naga,
dan liman itu gajah. Motif tersebut menggambarkan peperangan kebaikan melawan keburukan
dalam mencapai kesempurnaan.
"Motif itu juga menggambarkan percampuran Islam, Cina, dan India. Para pengikut tarekat
menyimpan pesan-pesan agamis melalui simbol yang menjadi motif karya seni termasuk pada
motif-motif batik," tutur Made Casta.
Pada megamendung, selain perjalanan manusia, juga ada pesan terkait kepemimpinan yang
mengayomi, dan juga perlambang keluasan dan kesuburan. Komarudin mengemukakan,
bentuk awan merupakan simbol dunia luas, bebas, dan transenden. Ada nuansa sufisme di
balik motif itu.
Membatik pada awalnya dikerjakan anggota tarekat yang mengabdi kepada keraton sebagai
sumber ekonomi untuk membiayai kelompok tersebut. Di Cirebon, para pengikut tarekat tinggal
di Desa Trusmi dan sekitarnya seperti Gamel, Kaliwulu, Wotgali, Kalitengah, dan Panembahan,
di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon.
Oleh karena itu, sampai sekarang batik cirebon, identik dengan batik trusmi. Masyarakat Trusmi
sudah ratusan tahun mengenal batik. "Eyang dari eyang saya sudah mengenal batik. Sampai
sekarang turun-temurun. Awalnya memang Trusmi, sekarang dengan perkembangan yang
pesat, masyarakat desa lain juga mengikuti tradisi Trusmi," tutur alumnus ITB yang juga
pengurus Yayasan Batik Indonesia (YBI).
Keberadaan tarekat menjadikan batik cirebon berbeda dengan batik pesisir lain. Karena yang
aktif di tarekat adalah laki-laki, mereka pula yang awalnya merintis tradisi batik. Ini berbeda
dengan daerah lain, membatik melulu pekerjaan wanita.
Motif Cina hanya sebagai inspirasi. Seniman batik cirebon kemudian mengolahnya dengan cita
rasa masyarakat setempat yang beragama Islam. Dari situ, lahirlah motif batik dengan ragam
hias dan keunikan khas, seperti Paksi Naga Liman, Wadasan, Banji, Patran Keris, Singa
Payung, Singa Barong, Banjar Balong, Ayam Alas, dan yang paling dikenal ialah
megamendung.
"Meski megamendung terpengaruhi Cina, dalam penuangannya secara fundamental berbeda.
Megamendung Cirebon sarat makna religius dan filosofi. Garis-garis gambarnya simbol
perjalanan hidup manusia dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa, berumah tangga sampai mati.
Antara lahir dan mati tersambung garis penghubung yang kesemuanya menyimbolkan
kebesaran Illahi," tutur pemilik showroom "Batik Komar" di Jln. Sumbawa, Kota Bandung itu.
**
SEJARAH batik di Cirebon juga terkait perkembangan gerakan tarekat yang konon berpusat di
Banjarmasin, Kalimantan. Oleh karena itu, kendati terpengaruh motif Cina, penuangan
gambarnya berbeda, dan nuansa Islam mewarnai. Disitulah terletak kekhasannya.
Pengaruh tarekat terlihat pada Paksi Naga Lima. Motif itu merupakan simbol berisi pesan
keagamaan yang diyakini tarekat itu. Paksi menggambarkan rajawali, naga adalah ular naga,
dan liman itu gajah. Motif tersebut menggambarkan peperangan kebaikan melawan keburukan
dalam mencapai kesempurnaan.
"Motif itu juga menggambarkan percampuran Islam, Cina, dan India. Para pengikut tarekat
menyimpan pesan-pesan agamis melalui simbol yang menjadi motif karya seni termasuk pada
motif-motif batik," tutur Made Casta.
Pada megamendung, selain perjalanan manusia, juga ada pesan terkait kepemimpinan yang
mengayomi, dan juga perlambang keluasan dan kesuburan. Komarudin mengemukakan,
bentuk awan merupakan simbol dunia luas, bebas, dan transenden. Ada nuansa sufisme di
balik motif itu.
Membatik pada awalnya dikerjakan anggota tarekat yang mengabdi kepada keraton sebagai
sumber ekonomi untuk membiayai kelompok tersebut. Di Cirebon, para pengikut tarekat tinggal
di Desa Trusmi dan sekitarnya seperti Gamel, Kaliwulu, Wotgali, Kalitengah, dan Panembahan,
di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon.
Oleh karena itu, sampai sekarang batik cirebon, identik dengan batik trusmi. Masyarakat Trusmi
sudah ratusan tahun mengenal batik. "Eyang dari eyang saya sudah mengenal batik. Sampai
sekarang turun-temurun. Awalnya memang Trusmi, sekarang dengan perkembangan yang
pesat, masyarakat desa lain juga mengikuti tradisi Trusmi," tutur alumnus ITB yang juga
pengurus Yayasan Batik Indonesia (YBI).
Keberadaan tarekat menjadikan batik cirebon berbeda dengan batik pesisir lain. Karena yang
aktif di tarekat adalah laki-laki, mereka pula yang awalnya merintis tradisi batik. Ini berbeda
dengan daerah lain, membatik melulu pekerjaan wanita.
Warna-warna cerah merah dan biru yang menggambarkan maskulinitas dan suasana dinamis,
karena ada campur tangan laki-laki dalam proses pembuatan batik. Di Trusmi pekerjaan
membatik merupakan pekerjaan semesta. Artinya, seluruh anggota keluarga berperan, si bapak
membuat rancangan gambar, ibu yang mewarnai, dan anak yang menjemurnya.
Oleh karena itu, warna-warna biru dan merah tua yang digunakan pada motif megamendung,
mengambarkan psikologi masyarakat pesisir yang lugas, terbuka, dan egaliter. (Agung
Nugroho/"PR")***
Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Jum'at 06 Februari 2009

Masa Kerajaan Majapahit

Batik-yang telah menjadi budaya di Majapahit-dapat ditemukan di Mojokerto dan Tulungagung. Mojokerto adalah daerah yang berkaitan dengan Majapahit. Di Tulungagung, kami dapat menemukan banyak cerita dan warisan. Pernah suatu ketika, ia memerangi terjadi antara Majapahit dan penguasa dari Tulungagung, Adipati Karanglewas. Dia dibunuh di fight. Akibatnya, wilayah yang dikuasai oleh Majapahit dan membawa batik budaya di wilayah ini. Saat ini, batik di daerah Mojokaerto adalah Kwali, Mojosari, Betero, Sidomulyo dan Jombang. Pada akhir abad 19., Ada beberapa keputusan batik dengan menggunakan bahan weaved putih dan pakaian batik untuk obat, ini yang terbuat dari soga jambal, bengkudu, nila tom, tinggi, dll Asing narkoba baru dikenal setelah Perang Dunia I . Ia dijual oleh pedagang Cina di Mojokerto. Cap batik dan asing narkoba yang dikenal pada saat yang sama. Cap dibuat di Bangil dan Mojokerto. Pengusaha batik dapat membelinya di pasar Porong Sidoarjo. Ia dikenal sebagai pasar yang ramai-sebelum krisis ekonomi dunia yang banyak-batik produksi berasal dari Keducangkring dan Jetis Sidoarjo. Ketika krisis ekonomi yang terjadi, pengusaha batik Mojokerto tidak dapat menjalankan bisnis mereka. Itu berlangsung sampai penjajahan Jepang di Indonesia. Perdagangan batik yang kembali setelah revolusi. Pada saat itu, Mojokerto yang menjadi wilayah koloni. Spesifik fitur Mojokerto batik (kalangbret) hampir mirip dengan batik Yogyakarta - dengan latar berwarna putih, coklat terang, dan biru gelap desain batik-Meskipun telah dikenal sejak Majapahit, perkembangannya baru saja dimulai dengan cepat tersebar di Yogyakarta dan Surakarta. Hal ini dapat ditemukan dengan mempertimbangkan desain-nya.

Pahit ketika melawan Belanda dan terjadi antara pasukan Diponegoro, Kyai Mojo diri kebanyakan orang pasukan. Mereka yang berlari ke arah Timur, Majan-Disebutkan status sebagai Merdikan desa, kecamatan dan khusus demang adalah Kyai (Islam guru atau pemimpin Islam) yang diberi judul turun temurun. Ini jenis produksi batik Majan merupakan warisan dari periode Diponegoro.

Babaran warna batik Majan dan Simo adalah unik. Lampu merah yang berasal dari bengkudu dan lainnya yang berasal dari tom. Banyak dari pengusaha batik yang datang dari Solo. Mereka tiba di Tulungagung pada akhir abad 19.. Sedangkan batik pusat, telah di Sembung. Sekarang, beberapa dari mereka tinggal di sana.

Selain itu, ada juga banyak disebut batik daerah Trenggalek dan daerah lain di Kediri - di mana alam adalah batik dan kerajinan rumah tangga adalah handwritten batik babaran-Ponorogo, seni batik yang memiliki hubungan dekat dengan menyebarkan Islam dan terakhir kerajaan. Telah berkata ada Majapahit descendent Batorokatong di daerah, yang disebut Raden Katong (Raden Patah dari saudara laki-laki muda) yang menyebarkan Islam di Ponorogo. Warisan-Nya saat ini adalah masjid yang terletak di kawasan Timur Patihan.

Perkembangan berikutnya, ada Boarding Islam di Ponorogo, Tegal Sari, yang telah dikelola oleh Kyai Hasan Basri. Banyak orang yang dikenal sebagai Kyai Agung Tegal Sari. Dia telah menjadi seorang anak laki-laki dalam hukum Solo raja. Di tempat ini, orang tidak hanya belajar agama Islam tetapi juga konstitusi, perang sains dan sastra. Salah satu yang paling terkenal murid dari Tegal Sari, Raden Ronggowarsito, memiliki perhatian besar dalam sastra. Seni batik telah dikenal di istana di daerah saat itu. Namun, tidak lama kemudian, menjadi turun ke bumi di Tegalsari karena Kyai Hasan Basri dan isterinya (the princess of Solo) yang diikuti oleh sahabat-sahabatnya itu, telah pindah dan tinggal di sana. Mereka diajarkan kepada generasi muda. Pemuda yang berpendidikan akan mencurahkan diri dalam masyarakat, khususnya di bidang administrasi dan agama.

The old batik area yang dapat kita temukan sampai sekarang adalah di Kauman wilayah Timur seperti Kepatihan, Ronowijoyo, Mangunkusuman, Kertosari Setono, Cokromenggolo, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Bertahun-tahun yang lalu, obat-obatan yang digunakan dalam proses batik adalah produk dalam negeri sendiri yang terbuat dari berbagai tanaman: Tom pohon, Bengkudu pohon, dan Kayu Tinggi. Untuk bahan putih, itu juga produk dalam negeri sendiri yang terbuat dari tenun Gendong. Bam impor bahan putih telah dikenal di Indonesia kira-kira pada akhir abad 19..

Produksi batik cap baru dikenal setelah Perang Kata saya disajikan oleh Cina, kwee Seng di Banyumas. Pada awal abad ke-20, batik adalah produk terkemuka di Ponorogo khususnya pada nila warna yang sulit untuk menjadi dihitamkan. Ini merupakan alasan mengapa banyak wirausahawan dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha batik di Ponorogo. Popularitas batik cap telah memimpin hingga saat ini dari batik kasar disebut biru tak dikelantang polos kain. Kemudian, cap batik yang telah menjadi sebuah produk terkemuka di Indonesia.

Batik memiliki hubungan erat dengan perkembangan Kerajaan Majapahit dan Islam tersebar di java. Dalam banyak kasus, sebagian besar batik pembangunan terjadi di masa Mataram, Solo dan Yogyakarta Kerajaan. Oleh karena itu, telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit dan terus meningkatkan untuk selanjutnya raja-raja.

Sementara itu, pada akhir abad 18. Atau pada awal abad 19., Batik telah didominasi oleh masyarakat Indonesia, terutama oleh Jawa. Pada awal abad ke-20, mereka diproduksi handwritten batik saat itu hanya dikenal di 1920. Terkait dengan menyebarkan Islam, sebagian besar pusat perbelanjaan batik yang berada di daerah-daerah Islam dan digunakan untuk berjuang melawan Belanda perekonomian.

Seni batik adalah seni lukis pada bahan. Mempunyai fungsi menjadi kostum yang dipakai oleh raja di masa lalu. Untuk pertama kalinya, ia hanya diproduksi di daerah istana dan ia dikenakan oleh para raja, keluarganya dan sahabat-sahabatnya. Kemudian, ia dibawa dan diproses di luar karena banyak dari sahabat-sahabatnya yang tinggal dari daerah istana. Tidak lama kemudian, ia ditiru oleh orang-orang yang paling dekat dan kemudian menjadi mata pencaharian bagi banyak ibu rumah tangga untuk menghabiskan waktu senggang mereka. Akhirnya, batik tidak hanya dikenakan oleh raja dan keluarganya, tapi juga untuk masyarakat umum, baik laki-laki dan perempuan. Selain itu, batik adalah bahan yang dibuat oleh menenun. Untuk bahan celup, ia datang dari alam Indonesia tanaman seperti: Bengkudu pohon, tinggi, soga dan nila. Yang terbuat dari bahan soda ash soda sementara garam yang terbuat dari lumpur.

http://article.linggageni.com

Batik Pembangunan Di Kota Lain

Setelah perang di 1830, dari sahabat-sahabatnya Dipenogoro disajikan batik di Sokaraja-pusat batik di Banyumas dan tempat Najendra, salah satu Diponegoro kompanyon ditingkatkan dip batik-yang tak dikelantang polos kain tenun yang digunakan adalah produk diri dan pewarna yang digunakan adalah pohon tom , kecepatan dan bengkudu pohon pohon di mana mereka memberi warna merah dan kuning. Dari waktu ke waktu, Batik produksi telah dikembangkan di Sokaraja. Pada akhir abad 19., Mereka langsung melakukan kerjasama dengan batik maker dari Solo dan Ponorogo. Batik produksi daerah yang ditempatkan di Banyumas sudah dikenal sejak beberapa tahun lalu. Itu karena desain dan warna tertentu. Panggilan ke hari orang-orang di Batik Banyumas. Setelah Perang Dunia I, Cina tidak hanya menjadi pedagang batik tetapi juga bahan batik pedagang.

Demikian pula produksi batik di Pekalongan, ini menyebar ke wilayah lain: Buaran, dan Kedungwuni, Wiradesa, dll Batik produksi daerah-daerah yang tidak terlalu lama dari yang di kota-kota lain. It was about 19. Abad. Sementara itu, Yogyakarta dan Solo batik dan pembangunan daerah lainnya yang dekat hubungannya dengan sejarah perkembangan kerajaan Yogya dan Solo.

Setelah akhir Diponegoro melawan, keluarga kerajaan pada pindah dari Yogya - karena mereka tidak mau bekerja sama dengan kolonial Belanda dan batik telah menjadi terkenal dan kemudian menjadi mata pencaharian. Di daerah baru ini, desain telah disesuaikan dengan lingkungan sekitarnya.

Dengan mempertimbangkan proses-nya dan desain, batik Pekalongan itu sepenuhnya dipengaruhi oleh batik dari Demak. Pada awal abad ke-20, yang populer adalah batik proses handwritten batik. Tak dikelantang polos kain yang dibuat dari kedua produk domestik dan impor. Setelah Perang Dunia I, batik cap dan penggunaan obat-asing yang terbuat dari Jerman dan Inggris-baru saja dikenal.

Pada awal abad ke-20, yang menenun, yang menghasilkan benang ikat pinggang yang twined dengan cara yang mudah, yang ditemukan di Pekajangan untuk pertama kalinya. Beberapa tahun kemudian, batik baru saja dikenal. Ia diproses oleh karyawan yang bekerja di sektor menenun. Batik terus berkembang lebih cepat dari tenun ikat pinggang. Selain itu, sebagian besar karyawan pabrik gula di Wonopringgo dan Tirto pernah dipindahkan pada perusahaan batik karena gaji tinggi.

Pada akhir abad 19., Batik dikenal di Tegal. Bahan-bahan yang digunakan adalah produk dalam negeri yang diambil dari berbagai tanaman: bengkudu, nila, soga pohon. Untuk menenun, produk itu sendiri. Untuk pertama kalinya, warna Tegal adalah batik sogan dan babaran abu-abu. Kemudian, ia menambahkan dalam nila (indigo) dan merah-biru. Dalam periode ini, Tegal batik disalurkan luar seperti Jawa Barat. Pedagang yang dibeli di kaki. Secara historis, itu mereka yang hadir batik di Tasik dan Ciamis. Selain itu, baru lainnya comers dari Jawa Tengah telah berpartisipasi dalam mengembangkan batik di daerah ini.

Pada awal abad ke-20, setelah Perang Dunia I, impor tak dikelantang polos kain dan impor obat baru saja dikenal. Sebagian besar pengusaha batik Tegal telah kehabisan modal. Mereka mengambil dasar komoditas dari Pekalongan pada kredit. Dan mereka yang dijual ke Cina yang memberikan kredit mereka. Ketika terjadi krisis ekonomi, yang dijual adalah batik dari Tegal perlambatan bawah. Dari 1934 ia kembali ke awal Perang Dunia II. Ketika Jepang menduduki di Indonesia, batik menjadi lambat lagi.

Demikian pula di Purworejo. Ini terjadi pada waktu yang sama dengan batik di Kebumen. Keduanya berasal dari Yogyakarta sekitar abad 21th. Batik pembangunan di Purwerojo itu lebih cepat dari yang di Kebumen. Sedangkan untuk produksinya, ia produk yang sama seperti Yogyakarta dan Banyumas.

Dalam Bayat, desa yang terletak di kaki Gunung Merapi, sekitar 21 km di sebelah timur dari Klaten, batik telah dikenal dalam waktu yang lama yang lalu. Sesungguhnya sejarahnya memiliki hubungan erat dengan istana Surakarta. Di Kebumen, batik telah ada sekitar abad 19.. Itu disampaikan oleh Jogja pengunjung dalam kasus menyebarkan Islam. Sumur-figur yang Penghulu, pemimpin Islam, Nusjav. Ia orang yang mengembangkan batik di Kebumen dan menetap pertama terletak di sebelah timur dari Sungai Lukolo. Nya warisan adalah sebuah masjid. Proses batik pertama di kota ini disebut "Teng abang atau Blambangan".

Akhirnya, proses terakhir dilakukan di Banyumas atau Solo. Berkaitan dengan pola, ia menggunakan kunyit yang cap yang terbuat dari kayu. Sementara itu pola dan pohon jenis burung. Bahan lainnya yang digunakan adalah bengkudu pohon, kemudu dan nila tom.

Penggunaan obat-obatan impor telah dikenal sekitar 1920. Itu disampaikan oleh BRI karyawan. Untuk mengurangi biaya waktu, akhirnya dia meninggalkan produk itu sendiri. Penggunaan cap sudah dikenal pada tahun 1930 yang disajikan oleh Purnomo dari Yogyakarta. Batik daerah di Kebumen yang Watugarut, dll Tanurekso

Oleh saat ini tentang warisan sejarah dan yang terakhir, mungkin akan mempertimbangkan bahwa batik telah dikenal sejak masa Tarumanegara di Tasikmalaya. Salah satunya adalah pohon Tarum. Ia menjabat sebagai proses batik. Desa untuk tetap membuat batik ini adalah Wurug, Sukapura, Mangunraja, Maronjaya dan Tasikmalaya kota. Untuk waktu yang lama yang lalu, yang paling ramai adalah tempat Sukapura dan Indihiang-desa yang terletak di perbatasan Tasikmalaya-kota dan 19. Dalam 18. Abad, perang dari kerajaan Jawa Tengah terjadi. Ia memimpin sebagian besar penduduk di Tegal, Pekalongan, Banyumas dan Kudus pengunjung ke wilayah barat dan tinggal di Ciamis dan Tasik. Kebanyakan dari mereka adalah pengusaha batik dan mereka berlari perdagangan batik di sana. Oleh karena itu, ia dikenal dengan produksi batik Soga yang berasal dari Jawa Tengah. Peristiwa batik produksi batik di Tasikmalaya adalah kombinasi dari Pekalongan, Tegal, Banyumas dan Kudus. Ia berbagai desain dan warna.

Di Ciamis, batik sudah dikenal di abad 19., Setelah Perang Diponegoro. Itu karena peran Diponegoro sekandang. Mereka telah disajikan dan dibuat sebagai mata pencaharian. Materi yang digunakan untuk kain tenun itu sendiri. Untuk lukisan, ia dibuat dari pohon seperti bengkudu dan pohon tom. Untuk pola, hal ini merupakan kombinasi dari batik Jawa Tengah dan produk lokal terutama garutan pola dan warna. Hingga abad ke-20, produksi batik di Ciamis telah berkembang langkah demi langkah diri dari permintaan untuk pasar distribusi.

Di Cirebon, asal batik berasal dari Kanoman, Kasepuhan, dan Keprabonan. Ia cerita yang sama seperti Batik Yogyakarta dan Solo. Namun, dengan fitur khusus yang flora dan fauna gambar. Ada juga pantai pola pikiran dipengaruhi oleh Cina dan Garuda burung, dipengaruhi oleh batik Yogya dan Solo.

Seperti daerah lain, di Jakarta, batik sudah dikenal di abad 19., Jawa Tengah yang disajikan oleh pengunjung. Batik daerah yang beredar di Jakarta adalah Karet, bendungan Ilir dan Udik, Kebayoran lama, Mampang Prapatan serta Tebet. Sebelum Perang Dunia I, Jakarta, khususnya pasar ikan Harbor, interregional telah menjadi pusat perbelanjaan di Indonesia. Setelah Perang Dunia I, ketika cap batik yang telah dikenal, produksi batik meningkat dan pedagang batik mencari daerah yang baru sedangkan yang tekstil dan batik di Jakarta adalah kawasan Tanah Abang (yang paling terkenal dari orang lain), Jatinegara dan Jakarta Kota. Batik produksi lokal dari Solo, Yogya, Banyumas, Ponorogo, Tulungagung, Pekalongan, Tasikmalaya, Ciamis dan Cirebon berkumpul di Tanah abang dan telah dikirim ke daerah lain dari Jawa. Dibandingkan dengan Cina dan Arab pedagang batik, Indonesia lebih kecil dari yang lain. Berdasarkan fakta ini, mereka memiliki inisiatif untuk mendirikan perusahaan batik di Tanah abang, Jakarta.

Setelah Word War I, pengusaha batik adalah karyawan Cina yang berasal dari Pekalongan, Yogya, Solo, serta tenaga kerja lokal. Selanjutnya, setelah mempertimbangkan proses-nya, asal penduduk menyiapkan batik Perusahaan pola dan proses yang telah disesuaikan oleh Pekalongan, Yogya, Solo, dan Banyumas batik. Komoditi batik yang digunakan adalah produk tenun diri juga sebagai obat-obatan, yang terbuat dari bengkudu, kayu, dll kunir dasar kain katun halus menjadi terkenal dan distribusi berada di pasar Tanah Abang pasar dan sekitarnya. Selain itu, batik yang menyebar di beberapa bagian kota: Padang, Sumatera Barat, dan daerah lainnya dari Jawa.

Pada akhir Perang Dunia I, Sumatera Barat adalah salah satu pelanggan batik dari Pekalongan, Solo dan Yogya. Namun, tangan-tenun Silungkang dan tenun plekat-wujud pertama dari orang lain.

Setelah Jepang, terdapat kekurangan stok batik di Padang sedangkan permintaan terus meningkat dari hari ke hari. Pelanggan memerintahkan untuk kegiatan mereka sehari-hari. Ada yang serius yang disebabkan oleh konflik antara Sumatera dan Jawa serta blockades Belanda. Terkait dengan hal ini, para pedagang batik itu mencoba untuk memproduksi sendiri batik. Dengan memiliki produk sendiri dan melaksanakan penelitian canggih batik dari luar Jawa, mereka mengambil pola dan diterapkan dalam kayu sebagai alat cap. Batik sendiri obat yang digunakan adalah produk yang terbuat dari berbagai tanaman: bengkudu, kunyit, gambir, damar dll White memiliki latar belakang yang diambil dari bekas / second hand satu tangan dan produk tenun.

Dalam 1946, perusahaan pertama yang muncul di wilayah sampan, Padang Pariaman: Bagindo Idris, Sidi, Ali, Sidi Zokaria, Sutan Salim, Sutan Syamsudin dan Payakumbuh. Dalam 1948, ia muncul Sir Waslim (dari Pekalongan) dan Sutan Rajab. Pada tahun 1949 kebanyakan mereka menyiapkan Batik Perusahaan menggunakan bahan yang dibuat di Singapura melalui pelabuhan Padang dan Pekanbaru. Setelah buka kerja sama dengan Jawa, bahkan mereka tidak dapat menjalankan bisnis mereka. Sebagian besar dari Padang batik telah hitam, kuning, merah dan warna ungu. Mereka digunakan Banyumasan, Indramayu, Yogya, Solo dan pola. Saat ini, pola yang lebih baik dari sebelumnya. Namun, jauh lebih buruk daripada yang di Jawa. Yang digunakan adalah alat stempel yang terbuat dari logam dan sebagian besar dari produksi yang sarung.

ttp://article.linggageni.com

Batik Cirebon







Kisah membatik di Cirebon berawal dari peranan Ki Gede Trusmi, salah seorang pengikut setia Sunan Gunung Jati yang mengajarkan seni membatik sambil menyebarkan agama Islam. Sampai sekarang, makam Ki Gede di desa Trusmi masih terawat baik, malahan setiap tahun dilakukan upacara ritual yang cukup khidmat yakni upacara Ganti Welit (atap rumput) dan Ganti Sirap setiap empat tahun. Usaha yang bermula dari skala rumahan lama kelamaan menjadi industri kerajinan yang berorientasi bisnis. Produk batik Cirebon bukan sekadar memenuhi kebutuhan lokal, tetapi sebagian pengrajin / pedagang mengekspornya ke mancanegara seperti Jepang, Amerika, Malaysia, Thailand dan Belanda. Keunikan motif serta corak yang dihasilkan dari batik-batik berbagai daerah merupakan kekuatan yang sangat luar biasa, khususnya bagi kekayaan seni budaya Indonesia. Belum ada di negara manapun yang memiliki kekayaan desain motif batik seperti yang di miliki oleh bangsa Indonesia. Cirebon merupakan penghasil batik dengan motif dan corak yang kuat dan khas. Batik Cirebon termasuk kedalam kelompok batik Pesisiran. Namun sebagian batik Cirebon termasuk dalam kelompok batik Keraton, yaitu Keratonan Kasepuhan dan Keraton Kanoman.Beberapa desain batik Cirebon Klasik seperti motif Mega Mendung, Paksinaga Liman, Patran Keris, Singa Payung, Singa Barong, Banjar Balong, Ayam Alas termasuk dalam kelompok batik Keraton. Batik Cirebonan Pesisiran dipengaruhi oleh karakter penduduk masyarakat pesisiran yang pada umumnya memiliki jiwa terbuka dan mudah menerima pengaruh asing. Daerah sekitar pelabuhan biasanya banyak orang asing singgah, berlabuh hingga terjadi perkawinan lain etnis (asimilasi) maka batik Cirebonan Pesisiran lebih cenderung menerima pengaruh dari luar. Warna-warna batik Cirebonan Pesisiran lebih atraktif dengan menggunakan banyak warna. Beberapa design batik pesisiran antara lain ; Kapal Kompeni, Penari Cina, Pekalis, Semarangan, Burung Gelatik dan lain lain.

BATIK MEGA MENDUNG

Hampir di seluruh wilayah Jawa memiliki kekayaan budaya batik yang khas. tentu saja ada daerah-daerah yang lebih menonjol seperti Solo, Yogya, dan Pekalongan. tetapi kekayaan seni batik daerah Cirebon juga tidak kalah dibanding kota-kota lainnya.

Menurut sejarahnya, di daerah Cirebon terdapat pelabuhan yang ramai disinggahi berbagai pendatang dari dalam maupun luar negri. Salah satu pendatang yang cukup berpengaruh adalah pendatang dari Cina yang membawa kepercayaan dan seni dari negerinya.

Dalam Sejarah diterangkan bahwa Sunan Gunung Jati yang mengembangkan ajaran Islam di daerah Cirebon menikah dengan seorang putri Cina Bernama Ong Tie. Istri beliau ini sangat menaruh perhatian pada bidang seni, khususnya keramik. Motif-motif pada keramik yang dibawa dari negeri cina ini akhirnya mempengaruhi motif-motif batik hingga terjadi perpaduan antara kebudayaan Cirebon-Cina.

Salah satu motif yang paling terkenal dari daerah Cirebon adalah batik Mega Mendung atau Awan-awanan. Pada motif ini dapat dilihat baik dalam bentuk maupun warnanya bergaya selera cina.

Motif mega mendung melambangkan pembawa hujan yang di nanti-natikan sebagai pembawa kesuburan, dan pemberi kehidupan. Motif ini didominasi dengan warna biru, mulai biru muda hingg biru tua. Warna biru tua menggambarkan awan gelap yang mengandung air hujan, pemberi penghidupan, sedangkan warna biru muda melambangkan semakin cerahnya kehidupan.

PUSAT BATIK CIREBON

Desa sentra Batik Cirebon terletak kurang lebih 7 Km arah barat pusat kota Cirebon , atau dari stasiun kereta api Kejaksan atau alun alun kota Cirebon.

Daerah penghasil produksi dan pengrajin batik Cirebonan terdapat di 5 wilayah desa yang berbeda, tepatnya daerah-daerah yang ada di sekitar desa Trusmi (pusat batik Cirebonan). Desa-desa yang berada di sekitar desa Trusmi diantaranya desa Gamel, Kaliwulu, Wotgali, Kalitengah dan Panembahan. Pertumbuhan batik Trusmi nampak bergerak dengan cepat mulai tahun 2000, hal ini bisa dilihat dari banyaknya bermunculan showroom-showroom batik yang berada di sekitar jalan utama desa Trusmi dan Panembahan. Pemilik showroom batik Trusmi hampir seluruhnya dimiliki oleh masyarakat Trusmi asli walaupun ada satu atau dua saja yang dimiliki oleh pemilik modal dari luar Trusmi.

http://batikcirebon.wordpress.com

Batik

Dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Batik

Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009. [1]

Etimologi

Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik".[rujukan?]

Sejarah teknik batik

Tekstil batik dari Niya (Cekungan Tarim), Tiongkok

Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.[2]. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.[3]

Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. [2]Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.[4]

G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.[4]

Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa.[5] Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.[2]

Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.

Budaya batik

Pahlawan wanita R.A. Kartini dan suaminya memakai rok batik. Batik motif parang yang dipakai Kartini adalah pola untuk para bangsawan

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Batik Cirebon bermotif mahluk laut

Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.

Batik dipakai untuk membungkus seluruh tubuh oleh penari Tari Bedhoyo Ketawang di keraton jawa.

Corak batik

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Baju Batik di Indonesia

Pada awalnya baju batik kerap dikenakan pada acara acara resmi untuk menggantikan jas. Tetapi dalam perkembangannya apda masa Orde Baru baju batik juga dipakai sebagai pakaian resmi siswa sekolah dan pegawai negeri (batik Korpri) yang menggunakan seragam batik pada hari Jumat. Perkembangan selanjutnya batik mulai bergeser menjadi pakaian sehari-hari terutama digunakan oleh kaum wanita. Pegawai swasta biasanya memakai batik pada hari kamis atau jumat.

Baju batik di Malaysia

Setiap hari Kamis, semua pegawai negeri lelaki di Malaysia diharuskan memakai baju batik Malaysia mulai 17 Januari 2008. Ketua Pengarah Jabatan Perkhidmatan Awam Tan Sri Ismail Adam telah membagikan kepada semua jabatan kerajaan.

Sebelum ini peraturan memakai baju batik hanya pada hari Sabtu saja. Kemudian diubah kepada hari ke-1 dan hari ke-15 setiap bulan. Tetapi banyak yang melupakannya. [6]

Cara pembuatan

Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

Jenis batik

Pembuatan batik cap

Menurut teknik

  • Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
  • Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
  • batik saring,
  • batik celup,
  • batik terap.

Menurut asal pembuatan

Batik Jawa
batik Jawa adalah sebuah warisan kesenian budaya orang Indonesia, khususnya daerah Jawa yang dikuasai orang Jawa dari turun temurun. Batik Jawa mempunya motif-motif yang berbeda-beda. Perbedaan motif ini biasa terjadi dikarnakan motif-motif itu mempunyai makna, maksudnya bukan hanya sebuah gambar akan tetapi mengandung makna yang mereka dapat dari leluhur mereka, yaitu penganut agama animisme, dinamisme atau Hindu dan Buddha. Batik jawa banyak berkembang di daerah Solo atau yang biasa disebut dengan batik Solo.

IN MEMORIAM BPK HASAN NAWI

Bpk HasanNawi ketiga dari kiri

Berbicara tentang Pengrajin Topeng Cirebon di Kota Cirebon, Bapak Hasan Nawi adalah salah satu pengrajin Topeng yang cukup dikenal di Wilayah Cirebon. Beliau pada tahun 1997 telah mendapatkan Penghargaan Upakarti dari Presiden Republik Indonesia sebagai pengrajin Topeng yang masuk dalam Kategori Pelestarian seni budaya.
Kini beliau telah tiada, pada hari Jum'at tanggal 19 Februari 2010 jam 13.00 WIB,berpulang ke Rakhmatullah. Namun hasil karya beliau tidak akan pernah hilang dari ingatan semua orang, terutama jika kita mengingat produk Topeng Cirebon.
Selamat Jalan Bapak Hasan Nawi....semoga Allah SWT mengampuni dosa dan kesalahan serta mendapat tempat yang terbaik disisi Mu.

Thursday, February 18, 2010

Sekapur Sirih Tentang Songket

Beberapa motif Songket Padang

 



Songket adalah jenis tenunan tradisional daerah Melayu. Nama songket sendiri berasal pada benang tambahan di antara lungsi saat menenun sebuah kain dan membentuk sebuah motif. Motif inilah yang sejarah dan asal usul kain Songket. Persebaran Songket sendiri pulau Sumatra sampai Bali. Pada jaman dahulu material pembuat Songket didatangkan dari Tiongkok dan India, benang sutra dar Tiongkok dan benang emas/perak dari India.





Karena material pembuatannya yang cukup mahal, Songket pada jaman dahulu hanya dipakai pada acara-acara resmi seperti pernikahan dan terbatas pada raja dan bangsawan. Tetapi dengan perkembangan jaman material Songket dapat diganti dengan benang sintetis baik pada benang sutra maupun emas/perak dan kegunaannya pun tidak sebatas lagi untuk acara formal dan pada kalangan tertentu tetapi juga bisa dipakai sebagai pakaian sehari-hari dan oleh semua lapisan masyarakat. 
Songket sendiri masih bermotif tradisional seperti flora dan fauna lokal, dan penganan favorit raja. Corak tradisional tersebut disebabkan oleh cara pembuatan Songket yang masih tradisional, yaitu ditenun tangan.Songket dipakai laki-laki sebagai destar dan penutup kepala, dan kemudian wanita sebagai sarung, selendang dan baju kurung. Pada jaman sekarang Songket juga dijadikan hadiah perkawinan untuk pengantin perempuan dari pengantin laki-laki.


(posted by 1235ty)

Wednesday, February 17, 2010

Sejarah Batik Megamendung , Akulturasi Batik Cirebon

SALAH satu motif batik Megamendung yang menjadi khas Cirebon. Motif yang merupakan akulturasi dengan budaya Cina itu, kemudian dikembangkan seniman batik Cirebon sesuai cita rasa masyarakat Cirebon yang beragama Islam.

SEBAGAI suatu karya seni, megamendung identik dan bahkan menjadi ikon batik pesisiran Cirebon. Batik ini memiliki kekhasan yang tidak dijumpai di daerah-daerah pesisir penghasil batik lain di utara Jawa seperti Indramayu, Pekalongan, maupun Lasem.

Kekhasan megamendung atau “awan-awanan” tidak saja pada motifnya yang berupa gambar menyerupai awan dengan warna-warna tegas seperti biru dan merah, tetapi juga pada nilai-nilai filosofi yang terkandung pada motifnya. Hal ini sangat erat berkaitan dengan sejarah lahirnya batik secara keseluruhan di Cirebon.

Belum jelas, kapan batik menjadi tradisi di daerah pesisir pantura. Dari beberapa penuturan, sejarah batik di Cirebon terkait erat dengan proses asimilasi budaya serta tradisi ritual religius. Prosesnya berlangsung sejak Sunan Gunung Djati menyebarkan Islam di Cirebon sekitar abad ke-16.

Budayawan dan pemerhati batik, Made Casta menuturkan, sejarah batik dimulai ketika Pelabuhan Muara Jati (Cirebon) menjadi tempat persinggahan pedagang Tiongkok, Arab, Persia, dan India. Saat itu terjadi asimilasi dan akulturasi beragam budaya yang menghasilkan banyak tradisi baru bagi masyarakat Cirebon.

Pernikahan Putri Ong Tien dan Sunan Gunung Djati merupakan ’pintu gerbang’ masuknya budaya dan tradisi Tiongkok (Cina) ke keraton. Ketika itu, keraton menjadi pusat kosmik sehingga ide atau gagasan, pernik-pernik tradisi dan budaya Cina yang masuk bersama Putri Ong Tien menjadi pusat perhatian para seniman Cirebon. “Pernik-pernik Cina yang dibawa Putri Ong Tien sebagai persembahan kepada Sunan Gunung Djati, menjadi inspirasi seniman termasuk pebatik,” tutur perupa Made Casta. Keramik Cina, porselen, atau kain sutra dari zaman Dinasti Ming dan Ching yang memiliki banyak motif, menginspirasi seniman Cirebon. Gambar simbol kebudayaan Cina, seperti burung hong (phoenix), liong (naga), kupu-kupu, kilin, banji (swastika atau simbol kehidupan abadi) menjadi akrab dengan masyarakat Cirebon. Para pebatik keraton menuangkannya dalam karya batik. Salah satunya motif megamendung.

“Tentu dengan sentuhan khas Cirebon, sehingga tidak sama persis. Pada megamendung, garis-garis awan motif Cina berupa bulatan atau lingkaran, sedangkan megamandung Cirebon cenderung lonjong, lancip, dan berbentuk segitiga. Ini yang membedakan motif awan Cina dan Cirebon,” tutur Made Casta.

H. Komarudin Kudiya, S.I.P., M.Ds., Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) mengemukakan, persentuhan budaya Cina dengan seniman batik Cirebon melahirkan motif batik baru khas Cirebon.

Motif Cina hanya sebagai inspirasi. Seniman batik cirebon kemudian mengolahnya dengan cita rasa masyarakat setempat yang beragama Islam. Dari situ, lahirlah motif batik dengan ragam hias dan keunikan khas, seperti Paksi Naga Liman, Wadasan, Banji, Patran Keris, Singa Payung, Singa Barong, Banjar Balong, Ayam Alas, dan yang paling dikenal ialah megamendung.

“Meski megamendung terpengaruhi Cina, dalam penuangannya secara fundamental berbeda. Megamendung Cirebon sarat makna religius dan filosofi. Garis-garis gambarnya simbol perjalanan hidup manusia dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa, berumah tangga sampai mati. Antara lahir dan mati tersambung garis penghubung yang kesemuanya menyimbolkan kebesaran Illahi,” tutur pemilik showroom “Batik Komar” di Jln. Sumbawa, Kota Bandung itu.

**

SEJARAH batik di Cirebon juga terkait perkembangan gerakan tarekat yang konon berpusat di Banjarmasin, Kalimantan. Oleh karena itu, kendati terpengaruh motif Cina, penuangan gambarnya berbeda, dan nuansa Islam mewarnai. Disitulah terletak kekhasannya.

Pengaruh tarekat terlihat pada Paksi Naga Lima. Motif itu merupakan simbol berisi pesan keagamaan yang diyakini tarekat itu. Paksi menggambarkan rajawali, naga adalah ular naga, dan liman itu gajah. Motif tersebut menggambarkan peperangan kebaikan melawan keburukan dalam mencapai kesempurnaan.

“Motif itu juga menggambarkan percampuran Islam, Cina, dan India. Para pengikut tarekat menyimpan pesan-pesan agamis melalui simbol yang menjadi motif karya seni termasuk pada motif-motif batik,” tutur Made Casta.

Pada megamendung, selain perjalanan manusia, juga ada pesan terkait kepemimpinan yang mengayomi, dan juga perlambang keluasan dan kesuburan. Komarudin mengemukakan, bentuk awan merupakan simbol dunia luas, bebas, dan transenden. Ada nuansa sufisme di balik motif itu.

Membatik pada awalnya dikerjakan anggota tarekat yang mengabdi kepada keraton sebagai sumber ekonomi untuk membiayai kelompok tersebut. Di Cirebon, para pengikut tarekat tinggal di Desa Trusmi dan sekitarnya seperti Gamel, Kaliwulu, Wotgali, Kalitengah, dan Panembahan, di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon.

Oleh karena itu, sampai sekarang batik cirebon, identik dengan batik trusmi. Masyarakat Trusmi sudah ratusan tahun mengenal batik. “Eyang dari eyang saya sudah mengenal batik. Sampai sekarang turun-temurun. Awalnya memang Trusmi, sekarang dengan perkembangan yang pesat, masyarakat desa lain juga mengikuti tradisi Trusmi,” tutur alumnus ITB yang juga pengurus Yayasan Batik Indonesia (YBI).

Keberadaan tarekat menjadikan batik cirebon berbeda dengan batik pesisir lain. Karena yang aktif di tarekat adalah laki-laki, mereka pula yang awalnya merintis tradisi batik. Ini berbeda dengan daerah lain, membatik melulu pekerjaan wanita.

Warna-warna cerah merah dan biru yang menggambarkan maskulinitas dan suasana dinamis, karena ada campur tangan laki-laki dalam proses pembuatan batik. Di Trusmi pekerjaan membatik merupakan pekerjaan semesta. Artinya, seluruh anggota keluarga berperan, si bapak membuat rancangan gambar, ibu yang mewarnai, dan anak yang menjemurnya.

Oleh karena itu, warna-warna biru dan merah tua yang digunakan pada motif megamendung, mengambarkan psikologi masyarakat pesisir yang lugas, terbuka, dan egaliter.

http://www.pikiran-rakyat.com/