Tuesday, March 1, 2011
Delegasi Parlemen Eropa puji batik RI
Hal ini disampaikannya saat delegasi tersebut mengunjungi proyek kerja sama hasil pendanaan di bawah komponen Uni Eropa Switch Asia Program di Yogyakarta.
“Uni Eropa adalah mitra Indonesia yang memiliki komitmen. Batik merupakan lambang budaya Indonesia yang indah dan saya gembira atas kerja sama kita untuk menumbuhkan usaha produksi yang ramah lingkungan,” kata Warner Langen, Ketua Delegasi, dalam siaran pers yang diterima Bisnis hari ini.
Langen berharap kunjungan yang dilakukan delegasinya ke dua provinsi di Indonesia, yakni DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta, dapat menambah pengetahuannya secara langsung tentang nilai-nilai di Indonesia.
“Saya berharap mendapatkan pengetahuan langsung mengenai dinamika dan keberagaman hubungan antara Uni Eropa dan Indonesia,” kata Langen.
Proyek kerja sama yang dikunjungi itu bertujuan meningkatkan indikator lingkungan dari industri batik dengan mempromosikan proses produksi yang ramah lingkungan, untuk menciptakan konsumen yang sadar lingkungan dan kebijakan lingkungan yang mendukung produksi berkesinambungan UKM batik.
Menurutnya, proyek batik itu menargetkan 600 usaha kecil dan menengah serta pemangku kepentingan lainnya di enam provinsi di Indonesia.
Badan utama yang mengimplementasikan proyek ini adalah Ekonid (Kamar Dagang Indonesia-Jerman) bersama mitra dan asosiasi dari akademisi, kamar dagang, otoritas daerah/nasional, yayasan batik, media dan peritel.
Periode pelaksanaannya dimulai pada Februari 2010 hingga Januari 2014, di mana Uni Eropa memberikan kontribusi 80% dari total biayam yakni sekitar 1,8 juta euro atau sekitar Rp22 miliar.
Selama kunjungan ke dua provinsi itu para delegasi akan menyaksikan seberapa jauh hasil kerja sama antara UE dan RI dalam proyek bantuan dan pembangunan, termasuk usaha rekonstruksi di Yogyakarta pascabencana gempa 2006.
Pada 20 Oktober 2006 Uni Eropa telah memobilisasi bantuan donor sejumlah 78,05 juta euro (sekitar US$95,22 juta/Rp950 miliar) untuk mendukung Pemerintah Indonesia melakukan rekonstruksi, rehabilitasi, dan pemulihan mata pencaharian masyarakat korban gempa di Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.(er)
Sumber dari http://www.bisnis.com/ekonomi/mikro-ukm/13944-delegasi-parlemen-eropa-puji-batik-ri
Thursday, October 28, 2010
Motif Mega Mendung dalam berbagai karya
Motif mega mendung ternyata bisa dikreasikan untuk kaos, piyama, bantal, kursi, jaket hingga casing laptop….
ini dia motif mega menudung dalam berbagia media, tidak lupa penulis mencantumkan link ….
1. KAOS MEGA MENDUNG
sumber gambar = http://kaoskojo.dagdigdug.com
2. YUKATA MEGA MENDUNG
Sumber gambar = http://www.novica.com/
3. BANTAL MEGA MENDUNG
Sumber gambar = http://trusmibatikcraft.indonetwork.co.id/
4. JAKET MEGA MENDUNG
Sumber Gambar = http://www.medogh.com/
5. TAS MEGA MENDUNG
6. TAPLAK MEJA MEGA MENDUNG
Sumber gambar = http://trusmibatikcraft.indonetwork.co.id/
7. TAS LAPTOP MEGA MENDUNG
Sumber Berita = http://t4t4.blogdetik.com/
8. Kursi dan LAmpu MEGA MENDUNG
9. BARBIE
Wednesday, October 13, 2010
Batik Cirebon - membentang dari keraton hingga pesisir
- Terdapat unsur hiasan berbentuk awan (mega) yang disesuaikan dengan motif utamanya dan kerap mengikutsertakan motif batu cadas pada bagian motif tertentu.
- Latar kain cenderung kosong tanpa ragam hiasan.
- Dasar kain memiliki warna lebih muda dari warna garis pada motif utamanya.
- Garis motif pada batik memakai garis tunggal dan tipis kurang dari 0,5mm.
- Warna batik didominasi warna kuning (sogan gosok), hitam dan warna dasar krem, atau berwarna merah tua, biru tua, hitam dengan dasar warna kain krem atau putih gading.
- Warna merah dan biru merupakan representasi maskulinitas karena dulunya pekerjaan membatik dilakukan pria.
- Dalam proses pengerjaan penutupan, menggunakan canting tembok dan bleber (alat membatik yang terbuat dari batang bambu yang ujungnya diberi potongan benang katun tebal yang dimasukkan salah satu ujung bambu).
- Cenderung dipengaruhi oleh budaya luar dan mengikuti selera pasar.
- Menggunakan lebih banyak warna sehingga batik yang dihasilkan berwarna lebih cerah dan terang.
- Memiliki motif yang memadukan beragam unsur flora dan fauna.
http://warisankainpusaka.blogspot.com/2010/03/batik-cirebon-membentang-dari-keraton.html
Menjaga Batik Agar Tak Jadi Tren Sesaat

Semenjak diakuinya batik sebagai budaya tak benda warisan manusia Indonesia oleh UNESCO satu tahun lalu, diikuti penetapan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, antusiasme masyarakat Indonesia untuk mengenakan batik melonjak.
Jika 10 tahun lalu mungkin hanya orang tua yang mengenakan batik --itu pun sebagai kain panjang atau kemeja resmi-- maka sekarang remaja dan kalangan muda usia produktif pun makin nyaman beraktivitas berbusanakan batik.
Batik tak lagi muncul dalam acara-acara resmi yang membosankan, namun juga dalam gaya-gaya kasual nan `chic` serta segar.
Batik berevolusi dalam segala bentuk busana seiring dengan imajinasi dan kreativitas perancang busana ternama Indonesia.
Selain deretan rancangan adibusana yang mewah, batik juga tampil dalam berbagai desains santai yang jauh lebih sederhana dengan harga jauh lebih murah.
Dari Presiden, kalangan profesional, artis terkenal, anak-anak sekolah, hingga tukang becak di sudut jalan, mengenakannya karena batik tak mengenal status sosial.
Tapi euforia itu tampaknya tak cukup bagi seorang Edward Hutabarat. Perancang busana nasional ternama ini ingin mengajak masyarakat Indonesia tidak hanya mengenal lembar demi lembar batik secara fisik, namun juga mengetahui cerita di balik pembuatan batik.
"Seseorang boleh jadi memiliki puluhan koleksi busana batik dan mampu menyebutkan perbedaan setiap coraknya dengan fasih, namun tidak setiap orang mengetahui "backstage" (kisah di balik) setiap jenis batik," kata Edward dalam peluncuran kampanye "Cintaku Pada Batik Takkan Pernah Pudar" di Museum Nasional, Jakarta, Jumat.
Tampil dalam balutan kemeja batik lengan pendek bercorak biru dengan dasar putih, pria kelahiran Tarutung, Sumut, itu mengungkapkan kekhawatirannya apabila batik hanya menjadi tren sesaat yang hilang begitu bergeraknya sang waktu.
Oleh karena itu, ia menegaskan perlunya membangun kesadaran pada masyarakat Indonesia agar batik tidak hanya menjadi tren sesaat. "Agar identitas dan kecintaan batik di kehidupan modern ini tidak memudar," katanya.
Masyarakat Indonesia, katanya, mengemban tanggung jawab besar untuk melestarikan batik sebagai warisan budaya bangsa.
Untuk itu, dia menganjurkan setiap orang mengetahui "backstage" setiap jenis batik di Indonesia, minimal batik yang menjadi koleksinya.
"Jangan hanya batiknya, tetapi misal kuliner dari daerah itu, bagaimana kehidupan masyarakatnya, atau kesenian yang lain," kata pria yang mengaku telah melakukan perjalanan ke Cirebon, Pekalongan, Yogya, Solo dan sejumlah kota penghasil batik lainnya.
Dengan bangga dia menunjukkan sejumlah koleksi foto yang menjadi bukti bagian dari perjalanannya menemukan akar dari setiap lembar kain batik yang menjadi ciri khas daerah-daerah yang membuatnya.
"Batik tidak hanya sekedar wujud fisik busana khas Indonesia, melainkan terdapat proses panjang, cita rasa dan estetika yang dibalut dengan perasaan dalam pembuatannya," katanya.
Edward yang sore itu menampilkan beberapa koleksi terbarunya menegaskan bahwa setiap goresan canting dalam proses pembuatan batik melibatkan emosi dan memesankan banyak aspek kehidupan lingkungan sekitarnya.
Tradisi Indonesia
Kapan tepatnya orang Indonesia mengenal batik dan muasal kata batik menjadi perdebatan hingga sekarang sekalipun sejumlah pihak menyebutkan batik telah menjadi bagian kehidupan rakyat Indonesia sejak era Majapahit.
Namun sebuah foto keluarga RA Kartini yang berusia lebih dari 100 tahun lalu menunjukkan bahwa lebih dari 100 tahun lalu masyarakat Indonesia, Jawa khususnya, telah sangat akrab dengan batik.
Di Indonesia, tradisi membatik diturunkan dari generasi ke generasi, dari ibu kepada anaknya, dari nenek kepada cucunya.
Oleh karena itu, pada zaman dahulu satu asal motif dapat dikenali dari keluarga tertentu dan menunjukkan status seseorang.
Menurut Edward, setidaknya perlu 20-25 tahun sampai seseorang diakui seniman batik ulung.
"Butuh 20-25 tahun untuk dapat menggambar seluruh jenis motif batik, karena batik lebih dari sekedar menggambar di atas kain, ini adalah pekerjaan yang dilakukan dengan hati," katanya.
Sejumlah kota di Pulau Jawa hingga Madura dikenal memiliki corak kain batik yang sangat khas.
Batik-batik dari pesisir --Pekalongan, Cirebon, Tuban-- memiliki corak dan warna yang lebih beragam karena interaksi warga setempat dengan para pendatang.
Pengaruh asing itu memperkaya kreasi batik, sampai-sampai di era penjajahan Eropa muncul motif bunga tulip dan kereta kuda dalam batik.
Sementara itu batik-batik dari Yogya dan Solo cenderung mengambil warna tanah dengan motif-motif rumit dan kecil.
Edward lalu berbagi tips merawat kain atau busana batik agar warnanya tetap cemerlang, tidak pudar dan tahan lama.
Ia menuturkan, untuk mencuci selembar kain batik koleksinya yang berusia sekitar 50-an tahun dibutuhkan perlakuan-perlakuan khusus.
"Saya menggunakan air panas dan menyiapkan empat ember air untuk mencuci satu lembar kain batik kuno," katanya, didampingi Senior Manager Product Development PT KAO Indonesia Seiji Kikuta.
Pria kelahiran 31 Agustus itu mengatakan satu ember berisi air panas sedangkan tiga ember yang lain berisi air dingin.
"Sabun pencuci dilarutkan dalam air panas, lalu kain direndam. Kemudian kain itu dipindahkan ke tiga ember yang lain bergantian," katanya.
Kemudian, kata dia, kain batik ditumpuk dengan handuk kering dan dijemur dengan menggunakan peralon (pipa plastik) atau bambu.
Sementara Kikuta yang sore itu mengenakan batik lengan panjang bewarna merah mengakubahwa KAO memahami kesulitan dan kekhawatiran konsumen Indonesia saat mencuci batik kesayangannya.
Dan itulah yang menginspirasi perusahaan global yang telah lebih dari 25 tahun berada di Indonesia itu untuk menawarkan inovasi baru; pencucian modern, praktis dan lembut untuk menjaga warna batik tidak pudar.
"Kami ingin memberikan sebuah inovasi khusus untuk masyarakat Indonesia," katanya dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Peluncuran kampanye "Cinta Pada Batik Takkan Pernah Pudar" itu ditutup peragaan busana 17 karya Edward yang keseluruhannya merupakan busana wanita.
Perancang yang telah menggeluti dunia busana selama 30 tahun itu kali ini menggunakan batik bercorak mega mendung dan pagi-sore dalam berbagai busana kasual, mulai dari jas pendek, rok bergaya babydoll, jaket panjang, gaun berpotongan lebar di bagian bawah dan gaun-gaun bermodel kemben.
Melalui peragaan ini, Edward agaknya ingin memberi teladan tentang bagaimana kita seharusnya memberlakukan batik, agar budaya bangsa yang telah diakui di kancah internasional ini tidak menjadi tren sesaat.(*)
G003/AR09
COPYRIGHT © 2010
http://www.antaranews.com/berita/1285975178/menjaga-batik-agar-tak-jadi-tren-sesaat“Mega Mendung” gaun Qory Sandioriva di Miss Universe
Gelaran Miss Universe 2010 telah digelar, dan wanita cantik asal Meksiko, Jimena Naverette terpilih sebagai Miss Universe 2010.
Puteri Indonesia 2009, Qory Sandioriva, yang mewakili Indonesia untuk
mengikuti gelaran tahunan ini gagal menjadi Miss Universe 2010, jangankan menjadi finalis untuk menembus 15 besar pun Qory gagal. Hal ini berbeda dengan polling, Qory ada di urutan ke-8 polling finalis terfavorit. Saingan terdekatnya adalah finalis asal Guatemala dan Thailand. Sayangnya polling tersebut tidak termasuk dalam penilaian para juri Miss Universe.Kegagalan Qory ditengarai karena kurang mahirnya bahasa Inggris Qory dalam menjawab pertanyaan juri dalam. Hal ini yang menjadi kritikan kepadanya. Sebagian yang mengkritik berujar kalau gadis berdarah Aceh itu menggunakan bahasa Inggris yang sulit dimengerti, bahkan ada pihak yang menyarankan Qory untuk menjawab dengan berbahasa Indonesia saja. Walaupun demikian ada yang mendukung Qory, si pendukung menyebut Qory berhasil masuk peringkat beauty talk (berbicara dan menjawab pertanyaan dengan kharismatik) dalam sesi wawancara
Salah satu motif batik khas Cirebon ini rupanya telah mendunia, kami masyarakat Cirebon tentu bangga dan senang karena motif batik Mega Mendung menjadi pilihan designer busana Puteri Indonesia 2009, dalam ajang Miss Universe 2010.
Gaun malam yang akan dikenakan Qory tersebut didominasi dengan warna perak pada bagian dasar kain yang terbuat dari material bahan tenun lame, yang mana pada permukaan kainnya dihias dengan motif Mega Mendung yang di rangkai dari mote berwarna perak kebiruan, biru muda, dan biru tua yang jumlahnya kurang lebih 3 (tiga) kilogram yang diaplikasikan pada kain dengan teknik pengerjaan tangan.
“Qory sendiri telah diinformasikan mengenai makna dari baju yang dikenakan. Hal ini penting agar Qory dapat bercerita kepada para finalis atau juri Miss Universe bahwa Indonesia punya kekayaan budaya dan alam yang dibanggakan,” terang Lenny.
Lenny merupakan designer muda Indonesia, dia berharap agar Qory bisa mencapai prestasi setinggi-tingginya di ajang Miss Universe.
Walaupun akhirnya Qory Sandioriva, gagal melaju final, tetapi kami, khususnya masyarakat Cirebon, bangga dan berterima kasih kepada desainer Lenny atas dipilnya Mega Mendung sebagai gaun Qory. Hal ini merupakan promosi batik Cirebon dan batik Indonesia di mata dunia.
http://finunu.wordpress.com/category/foto-sexyBatik Mega Mendung di tangan desainer Malaysia
Batik Cirebon khususnya motif Mega Mendung banyak menjadi pilihan desainer-desainer Indonesia, berbagai macam busana pria dan wanita bermotifkan mega mendung yang merupakan ciri khas batik cirebon telah banyak dibuat oleh desainer2 dalam negeri.
Ternyata motif Mega Mendung tidak hanya menarik bagi desainer dalam negeri saja, tetapi desainer dari negeri jiran Malaysia juga dengan motif yang satu ini.
Salah satunya RIZALMAN IBRAHIM, desainer muda dari negeri jiran ini tertarik menggunakan motif Mega Mendung dalam karya-karya desain busananya.
Ini dia karya-karyanya…..
__________________________________________________________
_________________________________________________________
________________________________________________________
__________________________________________________________
_______________________________________________________
______________________________________________________
____________________________________________________
http://finunu.wordpress.com/2010/07/16/batik-mega-mendung-di-tangan-desainer-malaysia/Setelah Batik Naik Kelas
Julia Robert sempat terkagum-kagum menyaksikan sehelai batik Cirebon bermotif mega mendung yang dikenakan artis senior Christine Hakim. Pemeran Elizabeth di film Eat, Pray, Love yang mengambil shooting di Ubud, Bali, ini tak henti-hentinya memegang halus kain batik tersebut.
“Dia bilang kain batik ini indah, warna dan motifnya cantik,” kata Christine menuturkan rasa kagum pemeran Pretty Woman itu.
Batik di mata Christine Hakim bukan hanya identitas diri. “Buat saya, batik merupakan bagian dari promosi negeri ini. Setiap saya ke luar negeri, saya selalu membawa koleksi batik, baik yang saya beli di perajin kecil maupun koleksi perancang lokal ternama,” ujarnya panjang-lebar.
Menurut Christine, setahun seusai United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) memberi pengakuan batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia di Abu Dhabi pada 2 Oktober tahun lalu merupakan angin segar. Apalagi kemudian pemerintah menetapkan setiap tanggal tersebut menjadi Hari Batik Nasional. “Ini menjadi tonggak sejarah penting,” ujarnya.
Senada dengan Christine, perancang Edward Hutabarat menyerukan semangat yang sama. Jumat lalu, bertempat di Museum Nasional, Jakarta, Edo-demikian Edward Hutabarat biasa disapa, mengobarkan semangat untuk mengenakan batik dengan slogan “Cintaku pada Batik Takkan Pernah Pudar”.
Selain menggelar peragaan busana, di acara itu Edo membeberkan bagaimana proses kecintaannya kepada kampung-kampung batik yang tersebar di seluruh Indonesia sebagai sumber inspirasi karyanya.
Bagi Edo, batik merupakan ekspresi kreativitas dan spiritual kehidupan rakyat yang telah naik kelas dan mendapat pengakuan internasional. “Saya memang menyajikan batik untuk kalangan papan atas.
Tapi saya pun ingin mengangkat kecintaan dan proses perjuangan hidup pembatik lengkap dengan sinergi lingkungan sekitar, seperti alam, kuliner, kerajinan, way of life sebuah kampung batik,” tuturnya.
Dengan memberi cerita panjang pada setiap batik yang dirancang menjadi karya indah di tangannya, Edo menginginkan batik bukan hanya sebagai bagian masa lalu, tapi juga untuk masa kini, yang tetap eksis di masa datang. Batik harus menjadi identitas dan kecintaan yang pada kehidupan modern yang tidak boleh hilang begitu saja dan memudar.
“Biar kalangan atas yang membeli batik saya tahu persis bagaimana proses panjang selembar kain. Saya harap, dengan begini, mereka tak hanya mampu membeli, tapi juga meresapi dan memaknai filosofinya.”
Karena itu, setiap Edo mengunjungi kampung batik di sebuah daerah, hal itu mewajibkannya membuat cerita panjang tentang sinergi lingkungan sekitar. “Dengan demikian, penghargaan batik tak sekadar asal pakai, tapi roh dan spiritnya juga akan melekat di sini,” katanya sambil menunjuk dada.
Sementara itu, Ikke Nirwan Bakrie, Ketua Rumah Pesona Kain (RPK), mengaku bahagia karena pada akhirnya batik menjadi tuan rumah di negeri sendiri. “Dulu ada anggapan bahwa yang pakai batik pasti ‘jadul’, hanya untuk ke undangan. Setelah semakin eksis dan naik kelas, batik menjadi identitas diri. Semua bangga, senang pakai batik, mulai anak-anak, remaja, hingga dewasa dan orang tua.”
Melalui RPK, Ikke menularkan semangat untuk menjaga dan melestarikan kain lokal, termasuk batik, kepada generasi muda. Tak dimungkiri, yayasan atau lembaga pencinta kain seperti RPK dari waktu ke waktu tumbuh subur dengan mengusung idealisme, visi, dan misi yang beragam.
“Itu pertanda bagus, saling melengkapi. Tidak ada persaingan, justru menjadi alternatif untuk ikut mencintai, menjaga, dan melestarikan kain seperti batik.”
Ikke mengakui, kehadiran wadah semacam ini membuat peminatnya, seperti para kalangan berduit atau papan atas, mencintai batik. “Tetapi saya ingin mereka tak sekadar mampu bayar atau borong. Yang paling penting, mereka harus bersikap memahami, menghargai, dan mencintai. Jangan merasa berduit, tapi tidak tahu spirit atau behind the story-nya.”
Di tempatnya, upaya yang dilakukan adalah membuat sinergi berupa program pembinaan untuk menjalin hubungan sosial serta ekonomi antara perajin batik, penjual, peran perancang, dan pembeli. “Melalui proses panjang ini sebagai benang merah ikatan yang kuat di antara mereka.”
Pengamat kain Sativa Sutan Aswar mengatakan, setelah batik naik kelas, bukan berarti pekerjaan selesai. “Masih banyak pekerjaan rumah, tidak berhenti di sini. Sekarang masyarakat ramai-ramai dan percaya diri memakai batik. Tapi harus diingat, kita mesti waspada terhadap serangan batik print Cina yang lebih murah dan beragam. Bila ini yang terjadi, kita hanya bangsa yang memakai batik impor yang memakai motif kita,” ujarnya.
Karena itu, Atitje–demikian Sativa Sutan Aswar biasa disapa–mengajak masyarakat harus bersikap jeli dan kritis untuk mencintai batik buatan negeri sendiri. Menurut dia, hal ini memang bukan pekerjaan mudah, harus ada kampanye, sosialisasi, dan pemberian informasi yang benar tentang batik kita. “Jadi bukan kita sudah berbangga-bangga pakai batik, eh ternyata yang dipakai batik buatan negara lain, yang dengan leluasa dan memang mirip menyajikannya seperti batik negeri sendiri.”
Oleh : HADRIANI P
Foto : TEMPO/Fully Syafi
Sumber : tempointeraktif.com, Selasa, 5 Oktober 2010
Canting Pena Batik Tulis

- Canting Rengreng,
Canting batik ini mempunyai cucuk tunggal dan tidak terlalu besar, diameter 1-2.5 mm. Fungsinya untuk membuat pola pertama pada batik tulis atau terkenal dengan istilah merengreng. Pola pertama atau dasar tidak terlalu rumit karena belum ada isian maupun tembokan atau pulasan pada kain. - Canting Isen
Canting batik isen mempunyai cucuk tunggal dan banyak sesuai dengan motif yang diinginkan, diameter canting ini lebih kecil 0.5-1.5 mm.
- Canting Cucuk Kecil
Canting bercucuk kecil digunakan untuk membuat isen pada pola batik yang telah direngreng. - Canting Cucuk Sedang
Canting ini digunakan untuk membuat pola pertama sebagai pola dasar dalam pembuatan batik tulis. - Canting Cucuk Besar
Digunakan untuk membuat pola-pola yang berukuran besar. Pola tersebut dipilih untuk membuat perbedaan antara pola utama dan pola tambahan. Tapi tidak semuanya pola diperlakukan seperti itu karena akan memakan waktu yang lebih lama untuk memilih pola yang akan diperbesar. Di daerah Trusmi, Cirebon canting ini digunakan untuk membuat tembokan atau pulasan pada kain, biasanya ujung cucuk ditambah dengan balutan kain sehingga diameter yang didapat lebih besar.
- Canting Cecekan
Canting ini tergolong canting isen yang mempunyai carat tunggal. Fungsinya sebagai pembuat titik-titik isen atau isen lainnya seperti isen ukel, pada motif batik. - Canting Loron
Diambil dari kata loro ( jawa ) atau dua, yang berarti canting ini mempunyai cucuk dua atas dan bawah. Fungsinya untuk membuat garis rangkap pada pola batik seperti batasan pada bogem. - Canting Telon
Canting telon mempunyai cucuk tiga berbentuk segitiga sama sisi. Fungsinya untuk membuat pola isen yang berbentuk segitiga. - Canting Prapatan
Bentuk canting prapatan cucuknya mempunyai empat buah dengan titik pola segi empat. Fungsinya sama seperti canting isen lainnya sebagai pembuat pola isen sehingga menghasilkan pola segi empat. - Canting Liman
Mempunayai cucuk lima dengan titik bebrbentuk linggaran. Satu sebagai pusatnya dan keempatnya mengelilingi pusat. - Canting Byok
Canting ini cucuknya berjumlah tujuh atau lebih baisanya jumlahnya ganjil. Fungsinya untuk membuat lingkaran - Canting Galaran
Canting galaran atau renteng mempunyai mata cucuk yang berbaris dari atas kebawah, jumlahnya empat atau lebih, biasanya berjumlah genap.
Batik Cirebon, Rahasia Dan Teknik Pewarnaan Batik Trusmi
Pewarnaan batik membedakan batik yang satu dengan lainnya. Setiap daerah mempunyai ciri khas warna tertentu sehingga menunjukkan keanekaragaman batik Indonesia. Pewarnaan ini tidak hanya menjadi ciri khas suatu daerah tetapi menentukan juga nilai-nilai estetika dari sebuah batik.
Batik Trusmi mempunyai warna dan teknik batik sendiri yang sulit ditiru oleh daerah lain, karena pewarnaan batik tidak hanya menggunakan teknik yang cukup rumit melainkan kadar ph air menentukan keberhasilan suatu proses pewarnaan batik. Artinya walaupun misalnya daerah Garut menguasai teknik pewarnaan batik Trusmi, tetapi jika dikerjakan di Garut warnanya tidak seperti warna batik Trusmi. Inilah keunggulan dari batik Trusmi, selain mempunyai desain batik yang baik, batik Trusmi juga didukung oleh teknik pewarnaan dan ph air yang berbeda dengan daerah lainnya.
Teknik pewarnaan batik tidaklah semudah melukis di atas kanvas. Melukis kanvas dapat dengan mudah mengontrol warna yang dituangkan karena semua warna terlihat jelas. Warna yang diinginkan dapat dengan mudah dihasilkan dan kalau warna tersebut tidak sesuai misalnya terlalu tua atau terlalu muda maka dengan mudah dapat diganti. Lain halnya dengan pewarnaan batik, kita harus mempunyai teknik tertentu untuk menghasilkan warna batik dengan motif tertentu. Selain itu feeling terhadap warna haruslah kuat karena warna batik dihasilkan dengan pencampuran zat kimia yang diproses air dengan suhu tertentu, pengelorodan atau perebusan batik dan pemanasan dengan cahaya matahari. Cukup rumit untuk pemula yang akan mempelajari batik, tapi jangan kuatir, semuanya akan diterangkan disini.
Batik Trusmi mengenal dua jenis warna yang berasal dari produsennya, yaitu warna buatan Jerman yang umumya disebut dengan istilah obat sol dan warna buatan Jepang atau terkenal dengan obat Jawo dan napthol. Kedua warna ini menggunakan campuran air sebagai pengencernya.
Umumnya pewarnaan batik Trusmi dibagi menjadi lima, batik sogan, batik biron, batik bangbiru, batik babarmas, dan batik tigo negerian.
Batik Sogan
Warna yang dihasilkan batik sogan adalah warna krem dan putih dengan corak berwarna hitam, sedangkan untuk isen-isen berwarna coklat.
Proses Pewarnaan
- Batik dengan motif yang sudah diberi isen-isen.
- Pemberian warna hitam dengan menggunakan zat kimia BO sebagai warna pertama dan garam biru yang ditambahakan dengan hitam.
- Penghilangan isen-isen yang akan diberi warna coklat dengan cara menggosokan cairan kustik yang dibilas dengan air sampai terlihat warna dasar kain putih.
- Penutupan warna dengan lilin.
- Pemberian warna coklat dengan menggunakan zat kimia SLB sebagai warna pertama dan biru BB, GG dan merah B sebagai warna kedua.
- Pelorodan atau perebusan batik.
- Penjemuran batik.
Babarmas
Warna babarmas sering digunakan untuk batik keratonan karena warna ini bercorak klasik. Babarmas mempunyai tiga unsur warna, krem sebagai dasarnya, hitam dan coklat sebagai coraknya.
Proses Pewarnaan :
- Batik dengan motif yang sudah diberi isen-isen dan tembokan.
- Pemberian warna hitam dengan obat apthul, dan BO yang dicampur dengan garam biru dan hitam.
- Pelorodan atau perebusan batik.
- Penutupan isen yang akan diberi warna putih
- Pemberian warna coklat dengan pencampuran warna SLB dan biru BB.
- Pelorodan atau perebusan batik.
- Penjemuran batik.
Biron
Warna biron diambil dari warna biru yang menjadi warna utama batik ini. Teknik pewarnaan biron paling sederhana disbanding dengan teknik lainnya karena hanya menggunakan satu kali proses pelorodan dan menghasilkan satu warna.
Proses pewarnaan :
- Batik dengan motif yang sudah diberi isen-isen.
- Pemberian warna obat napthol, obat AS yang dicampur dengan kostik dan air panas yang berfungsi sebagai pembangkit warna, serta zat kimia biru BB sebagai campuran warnanya.
- Pelorodan.
- Penjemuran batik.
Bangbiru
Istilah ini diambil dari warna batik yang dominan warna merah atau abang dan biru.
Proses pewarnaan :
- Batik dengan motif yang sudah diberi isen-isen dan tembokan.
- Pemberian warna merah, dengan campuran zat kimia BO dan BS yang dicampur dengan merah B dan R sebagai obat kedua.
- Pelorodan atau perebusan batik.
- Penutupan warna merah dan warna yang akan direncanakan berwarna putih atau dikenal dengan proses ngabangi.
- Pemberian warna biru dengan zat kimia AS dab biru BB.
- Pelorodan.
- Penjemuran batik.
Motif Batik Megamendung, nilai seni dan filosofinya
Sejarah timbulnya motif Megamendung yang diadopsi oleh masyarakat Cirebon yang diambil dari berbagai macam buku dan literature selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China yang datang ke wilayah Cirebon. Tercatat dengan jelas dalam sejarah bahwa Sunan Gunungjati menikahi Ratu Ong Tien dari negeri China. Beberapa benda seni yang dibawa dari negeri China diantaranya adalah keramik, piring, kain yang berhiasan bentuk awan. Bentuk aan dalam beragam budaya melambangkan dunia atas bilamana diambil dari faham Taoisme. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Konsep mengenai awan ini juga berpengaruh pada dunia kesenirupaan Islam pada abad 16 yang digunakan oleh kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.
Nilai-nilai dasar dalam Megamendung
Nilai-nilai dasar dalam seni apapun termasuk dalam seni batik motif megamendung bisa didekati dengan cara sbb:
a. Nilai Penampilan (appearance) atau nilai wujud yang melahirkan benda seni. Nilai ini terdiri dari nilai bentuk dan nilai struktur. Nilai bentuk yang bisa dilihat secara visual adalah motif megamendung dalam sebuah kain yang indah terlepas dari penggunaan bahan berupa kain katun atau kain sutera. Sementara dalam nilai struktur adalah dihasilkan dari bentuk-bentuk yang disusun begitu rupa berdasarkan nilai esensial. Bentuk-bentuk tersebut berupa garis-garis lengkung yang disusun beraturan dan tidak terputus saling bertemu.
b. Nilai Isi (Content) yang dapat terdiri atas nilai pengetahuan (kognisi), nilai rasa, intuisi atau bawah sadar manusia, nilai gagasan, dan nilai pesan atau nilai hidup (values) yang dapat terdiri dari atas moral, nilai sosial, nilai religi, dsb.
Pada bentuk Megamendung bisa kita lihat garis lengkung yang beraturan secara teratur dari bentuk garis lengkung yang paling dalam (mengecil) kemudian melebar keluar (membesar) menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Bisa dikatakan bahwa garis lengkung yang beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun) kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri (belajar/menjalani kehidupan sosial agama) dan pada akhirnya membawa dirinya memasuki dunia baru menuju kembali kedalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut (naik dan turun) pada akhirnya kembali ke asalnya (sunnatullah). Sehingga bisa kita lihat bentuk megamendung selalu terbentuk dari lengkungan kecil yang bergerak membesar terus keluar dan pada akhirnya harus kembali lagi menjadi putaran kecil namun tidak boleh terputus. Terlepas dari makna filosofi bahwa Megamendung melambangkan kehidupan manusia secara utuh sehinga bentuknya harus menyatu. Dilihat dari sisi produksi memang mengharuskan kalau bentuk garis lengkung megamendung harus bertemu pada satu titik lengkung berikutnya agar pada saat pemberian warna pada proses yang bertahap (dari warna muda ke warna tua) bisa lebih memudahkan.
c. Nilai Pengungkapan (presentation) yang dapat menunjukkan adanya nilai bakat pribadi seseorang, nilai ketrampilan, dan nilai medium yang dipakainya. Ungkapan yang ditampilkan oleh senimannya berupa proses batik yang begitu indah dengan memberikan goresan lilin lewat alat yang dinamakan canting terbuat dari bahan tembaga tipis yang dibentuk secara hati-hati sehingga lilin panas yang melewati ujung canting bisa mengalir dengan lancar. Paduan unsur warna yang harmonis dengan penuh makna bagi siapa yang melihatnya. Unsur warna biru yang kita kenal dengan melambangkan warna langit yang begitu luas, bersahabat dan tenang. Ditambah lagi dengan ada yang mengartikan bahwa biru melambangkan kesuburan sehinga warna batik Megamendung pada awalnya selalu memberikan unsur warna biru diselingi dengan warna dasar merah.
Perkembangan dunia batik yang semakin berkembang ditambah dengan permintaan batik yang demikian beragamnya, maka motif-motif Megamendung banyak dimodifikasi dengan pendekatan berbagai macam, sbb:
1. Bentuk Motif
Bentuk motif Megamendung pada saat sekarang sudah banyak berubah dan dimodifikasi sesuai dengan permintaan pasar diantaranya oleh komunitas perancang busana (fashion designer). Tidak dipungkiri bahwa kelompok perancang busana memberikan andil yang sangat besar bagi kemajuan dunia batik termasuk untuk mengangkat motif Megamendung. Motif Megamendung sudah dikombinasi dengan motif-motif bentuk hewan, bunga atau unsur motif lainnya. Sesungguhnya keberadaan motif Megamendung yang digabungkan dengan motif lain sudah ada sejak dahulu dan telah dibuat oleh seniman batik tradisional. Namun belakangan ini setelah diangkat secara total oleh perancang busana maka motif batik Megamendung semakin berkembang pesat.
2. Proses Produksi
Proses produksi batik Megamendung yang dahulunya dikerjakan secara batik tulis dan batik cap, sekarang dikembangkan pula dengan proses produksi sablon (print). Dengan demikian harga produksi bisa ditekan lebih murah. Walaupun kain bermotif Megamendung yang dibuat dengan proses sablon tidak bisa kita namakan batik, namun secara komersil motif Megamendung merupakan sasaran empuk bagi produsen tekstil yang bisa menghasilkan banyak keuntungan.
3. Bentuk Produksi
Wujud benda produksi pada masa sekarang ini yang mengenakan motif Megamendung tidak lagi dalam wujud kain batik. Motif Megamendung digunakan sebagai hiasan dinding lukisan kaca, pada produk interior berupa ukiran kayu, adapula yang dijadikan sebagai produk-produk sarung bantal, sprei, taplak meja (household) dan lain-lain.
Saya setuju dan sangat mendukung pendapat sekelompok pecinta batik yang menjadikan motif megamendung merupakan wujud karya yang sangat luhur dan penuh makna, sehingga penggunaan motif megamendung sebaiknya dijaga dengan baik dan ditempatkan sebagaimana mestinya. Kita sebagai masyarakat yang berkecimpung di dunia batik tidak membatasi bagaimana cara bentuk motif megamendung diproduksi, namun saya tidak setuju bilamana motif-motif megamendung dengan berbagai bentuk dijadikan barang produksi berupa pelapis sandal di hotel-hotel.
Penulis :
H. Komarudin Kudiya S.IP, M.Ds. Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB).
Batik Tradisional Cirebon yang Rawan

Sekitar 400 motif batik tradisional Cirebon, yang belum terlindungi, menimbulkan kekhawatiran di kalangan seniman. Pihak asing bisa "mencuri" hak ciptanya bila pihak berwenang Indonesia tidak segera mendaftarkan motif-motif ini.
"Kami khawatir pihak asing dapat mengklaim motif-motif ini. Hal ini bisa menempatkan kami di tempat yang buruk, "kata Katura, dari asosiasi pengrajin batik Cirebon.
"Kami mendesak pemerintah memberikan perhatian serius terhadap masalah ini."
Dia menambahkan bahwa perlindungan dan dukungan pemasaran dari pemerintah dan pemkot/pemkab sangat dibutuhkan untuk membantu mengembangkan industri batik yang selama beberapa generasi telah terpelihara dengan baik. "Mayoritas pengrajin batik di Cirebon telah menghadapi kesulitan dalam melakukan penetrasi pasar baik domestik atau internasional," kata Katura
"Kurangnya promosi menjadi salah satu sebab batik Cirebon kurang terkenal dibandingkan batik dari daerah lain. Hanya sedikit yang benar-benar masuk ke pasar domestik," katanya.
Dikenal sebagai batik Trusmi, yang merujuk pada sentra produksi batik terbesar di Kabupaten Plered, Cirebon, batik diyakini telah ada sejak abad ke-14, setelah pembentukan kesultanan Kasepuhan Cirebon. Proses pembuatan batik, kata Katura, pada awalnya dikembangkan di dalam kesultanan, dan kemudian menyebar ke masyarakat luas, mencapai daerah pesisir di kawasan itu.
"Batik Trusmi terkenal karena dua motif utama: keratonan dan pesisiran," kata Katura, batik Trusmi merupakan generasi kedelapan pengrajin.
Motif keratonan, dikembangkan di dalam kompleks kesultanan, dicirikan dengan motif-motif ornamen istana digambarkan dalam warna gelap, didominasi oleh hitam dan coklat. Contoh motif ini termasuk Panji Sumirang, Naga Seba, Sawunggaling dan Mega Mendung.
Motif pesisiran, di sisi lain, dikembangkan di daerah pesisir dan didominasi oleh motif flora dan fauna, dengan warna-warna cerah seperti merah, hijau, dan biru. "Meskipun kedua motif jarang diproduksi akhir-akhir ini, mereka masih ada," kata Katura. "Fakta bahwa motif tradisional ini sulit untuk ditemukan adalah karena sebagian besar pengrajin memproduksi batik yang disesuaikan dengan tren pasar," tambahnya.
Batik kini menjadi produk ketiga bernama Warisan Dunia Non-benda, setelah Wayang (wayang kulit) dan Keris.
Unesco menamakan wayang sebagai "Mahakarya Lisan dan Warisan Kemanusiaan Non-bendawi" pada bulan November 2003. Dan memberikan Keris status yang sama pada bulan November 2005.
Sumber:
Nana Rukmana, The Jakarta post via batikindonesia.info
foto: seniqU
Wednesday, March 10, 2010
Bagaimana proses?
Ada tiga jenis batik: handwritten, cap dan handprinting.
Handwritten batik
Dibandingkan dengan orang lain, adalah lebih ekslusif / mewah dan mahal. Hal ini karena kebutuhan keahlian, pengalaman, kejelian, pasien, dan banyak waktu dalam proses. J batik maker mengambil satu bulan untuk proses itu (yang tercepat waktu) dalam kondisi seperti: cuaca yang baik, pola umum dan tidak terlalu canggih. Untuk membuat batik lebih kompleks, diperlukan 3-6 bulan. Berikut adalah tahapan dalam proses:
- It is "ngrengsi" membuat pola pada bahan dan desain. Hal ini diambil dengan menggunakan pensil.
- Draw menggunakan lilin dan canting - pencedok kecil yang digunakan untuk menerapkan lilin dalam proses-batik itu dibuat dengan mengikuti pola yang diambil dengan pensil pada kedua sisi-kembali ke-belakang.
- "Nyolet" adalah lukisan dengan kuas kanvas atau untuk kebutuhan tertentu warna di area wanted. Hal ini dilakukan dengan mengikuti pola yang diambil oleh pensil.
- Mencakup semua bagian uncolored dengan lilin. Ia memiliki niat untuk menghindari pencampuran warna untuk mewarnai berikutnya / ngerek.
- Membuat warna pada bahan yang tidak tercakup oleh lilin. Hal ini dilakukan oleh penyelaman menggunakan warna tertentu / ngerek
Setelah penyelaman, adalah kering di bawah sinar matahari, dan biarkan kering. Kemudian, ulangi proses sebelumnya / kedua tahap berikutnya, adalah "nglorot" menghilangkan lilin dari bahan oleh meletakkan pada wadah dan menggunakan air panas, perebusan dalam suhu yang tinggi. Setelah bersih dari lilin, biarkan kering dan kembali ke proses sebelumnya-meliputi menggunakan lilin untuk menahan pertama dan kedua warna-Wax buka tutup dan proses dapat dilakukan berulang kali sesuai dengan jumlah warna dan kompleksitas desain mau. Proses terakhir adalah membersihkan bahan menggunakan air bersih, dan jemur sebelum memakai.
Batik cap
Cap yang digunakan adalah yang terbuat dari logam yang ada dalam pola. Oleh karena itu, tidak diperlukan banyak waktu untuk proses batik cap, hanya membutuhkan waktu 10 hari dan mampu memproduksi batik dalam besar, lebih mudah dan sederhana. Berikut ini adalah sebagai berikut manners:
- Pembuatan pola / desain ingin putih pada bahan. Ia dibuat oleh stamping. Jangan lupa untuk desinfeksi panas terlebih dahulu ke dalam lilin yang disimpan di kapal dan tekan pada bahan.
- Pertama warna proses. Dip-bahan yang bebas dari lilin ke-warna tertentu. Kering di bawah sinar matahari dan biarkan kering. Kemudian, kembali ke proses batik-menarik menggunakan lilin dan canting untuk menutup-warna yang pertama itu dilarang menggunakan cap ketika membuat warna meliputi proses.
- Terus melakukan penyelaman kedua warna. Kemudian, yang mengabaikan lilin dari bahan oleh meletakkan di tempat yang sama dengan air hangat.
- Setelah pembersihan dan pengeringan, kembali ke proses batik: memelihara warna pertama dan kedua menggunakan lilin dan canting. Pembukaan dan penutupan proses dapat dilakukan berulang-ulang berdasarkan jumlah warna dan kerumitan desain mau.
- Mencuci batik, jemur, biarkan kering sebelum memakai.
Handprinting batik
Ini juga disebut "penyaringan batik" karena kesamaan pada proses. desain dan warna yang telah dibuat atau dirancang pada offset / screening. Karena itu, lebih mudah saat memproses. Yang laku adalah:
- Proses pewarnaan pertama, dimulai dengan membuat pola / putih pada desain ingin menggunakan bahan sutera-screening. Terus berulang untuk membuat kedua warna serta membuat batik kombinasi.
- Kering di bawah sinar matahari atau letakkan di oven khusus. Biasanya, biarkan untuk 2-3 hari agar obat dapat menyerap dalam material.
- Ada dua pilihan: uap menggunakan uap pada suhu yang tinggi atau menggunakan bahan kimia, gelas air. Memiliki tujuan untuk tetap menjaga dan warna pada bahan dan untuk menghindari dihitamkan.
- "Nglorot" mengabaikan yang dari bahan lilin, dan kering





