Friday, August 27, 2010

Desa Pucak, sulawesi selatan (pucak village south sulawesi)

Sebagian besar dari pembaca mungkin belum mengetahui bahwa pada sebuah desa yang berada di Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros tepatnya bernama Desa Pucak terdapat sebuah objek wisata yang sangat menarik dan unik. Namun satu kesulitan yang dialami untuk mengunjungi objek wisata ini yaitu kondisi jalan raya yang kurang baik sampai entri ini saya terbitkan (September 2009).
Meskipun demikian hampir semua jenis kendaraan darat bisa melewati jalan ini.
Objek wisata ini bernama ''PUCAK TEACHING FARM'' yang dikelola oleh seorang pensiunan Jendral yang juga pernah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan periode (1993-2003) HZB. Palaguna.
Di masa pensiun beliau lebih banyak menghabiskan waktu pada objek wisata yang dia kelola. Beliau termasuk sosok yang sangat dermawan terhadap masyarakat di Desa Pucak sehingga keberadaan beliau menjadi kebanggaan tersendiri buat warga Desa Pucak.
Objek wisata ini memiliki beberapa fasilitas yang dapat dimamfaatkan untuk berbagai Keperluan mulai dari sekedar jalan-jalan mencari hiburan, kegiatan organisasi, kegiatan keagamaan, reuni, bazar dan lain-lain.


English :

Most of the readers may not know that at a village situated in Maros District Tompobulu named Village Pucak exactly a tourist attraction there is a very interesting and unique. However, one difficulty experienced to visit this tourist attraction is the condition of the highway that is less fine until I published this entry (September 2009).
Nevertheless almost all types of land vehicles can get through this road.
This tourist attraction called''PUCAK TEACHING FARM''which is managed by a retired General who also served as Governor of South Sulawesi period (1993-2003) HZB. Palaguna.
In retirement he spent more time on tour that he objects to manage. He included the figure of a very generous towards the people in the village of Pucak therefore the existence he has been a matter of pride for residents Pucak.
This tourist attraction has several facilities that can dimamfaatkan for a variety of supplies ranging from the streets just looking for entertainment, organized activities, religious events, reunions, and other bazaars.

Sunday, August 8, 2010

Sarung, dulu dan kini


Sebagian besar masyarakat Indonesia tentu tak asing dengan kain bernama sarung. Kain yang kedua ujungnya dijahit sehingga menyerupai tabung ini dipakai oleh pria dan wanita dalam banyak kesempatan. Bahkan seolah menjadi tradisi bagi pria muslim untuk mengenakan sarung saat beribadah.

Proses penyebaran agama Islam melalui perdagangan kabarnya turut pula mendatangkan tradisi penggunaan sarung yang dikenalkan oleh pedagang Yaman. Pemakaiannya yang sederhana dan tidak menunjukkan aurat pemakainya membuat kain ini menjadi populer dalam di kalangan muslim Indonesia. Pada zaman penjajahan Belanda, para santri bahkan mengenakannya sebagai symbol perlawanan terhadap pengaruh budaya barat.

Seiring perkembangan zaman, sarung dipakai tidak hanya dipakai untuk ritual keagamaan, tetapi juga upacara adat dan bahan sandang sehari-hari. Salah satu daerah penghasil kain tenun yang menjadi bahan sarung adalah Sulawesi Selatan, tepatnya di kawasan Sengkang dan Mandar. Masyarakat suku Bugis di kedua daerah ini memiliki ketrampilan menenun kain turun temurun. Corak khas sarung buatan Sengkang selain kotak-kotak kecil dan besar, juga garis zig-zag beraneka warna. Warna yang dihasilkan umumnya cerah seperti merah muda, kuning, hijau muda, dan merah terang. Sedangkan sarung Bugis buatan Mandar biasanya berwarna lebih gelap seperti merah marun, hijau tua dan hitam. Ragam hias yang dihasilkan selain kotak-kotak, juga bunga-bunga yang tersebar di seluruh permukaan kain dengan memakai benang metalik.



Sarung Bugis



My Ping in TotalPing.com
Get paid To Promote at any Location